Pak Dansek dan Talao Pauah




Meluangkan sore di Pantai Gandoriah saat ini bagai dihantar ke Pantai Sanur Bali. Hamparan pepohonan teduhkan sepanjang jalan di bibir pasir pantai. Pohon cemara tumbuh subur dan jangkung. Area pejalan kaki dibuat dari susunan batako, sejumlah taman dipercantik, pohon-pohon dipertahankan posisinya membuat susunan batako wajib ikuti pola pohon menjadi pot besar dan rata. Akar pohonnya tetap kekar memasak bumi.

Kawasan pantai selayaknya dibuat lapang dan berbagai sarana pendukung. Konsep wisata pantai terpadu Pariaman saat ini meliputi area joging trek, taman rekreasi, taman edukasi, area skateboard dan sepatu roda, futsal, perpustakaan dan sejumlah cafe sehat wal'afiat improvisasi anak muda kreatif Pariaman.

Nasi set-nya pun sekarang sudah punya bandrol. Ada tarif harga terpampang di tiap kedai-kedai, jaminan pakuak-mamakuak akan menamatkan eranya. Semoga saja bak dinosaurus yang tinggal fosil pra sejarah.

Wisata Pantai Pariaman menghampar dari Taluak, Karan Aur, Lohong, Pasir Pariaman dengan nama pantai Kata, Cermin, Lohong dan Gandoriah. Pembangunan pantai nan pesat ke arah selatan itu membuat pantai Pauh, Mangguang, Nareh bak menelan ludah. Keramaian saban hari dibatasi Muaro Pariaman itu terlihat jelas olehnya. Segala bentuk kegiatan pariwisata terpusat di sana, iri kah mereka?

Bicara iri, tunggu dulu. Untuk Pantai Pauh dan rekan mereka, konon sedang dibuatkan konsep terpadu pula. Jembatan usang yang menghubungkan Desa Pauh Barat dengan Pasir Pariaman sedang dibongkar dan diganti jembatan termegah di Pariaman. Modern pula. Berbiaya besar. Sekarang sedang dibangun.

Kepala Desa Pauh Barat, Kardinal Feri menuangkan ide ke depannya Pantai Pauh akan digemari oleh potensinya yang unik. Di Pantai Pauh terdapat telaga besar berpisah belasan meter dengan lautan lepas.

"Banyak potensi di Pantai Pauh yang bisa dikembangkan. Jika jembatan besar sudah selesai, Pantai Pauh lebih dilirik karena keunikannya tadi," kata Kardinal, di Cafe Espresso, Gandoriah, Jumat sore (15/4).

Telaga Pauh (Talao Pauah) di era tahun 80an adalah telaga  jernih. Saat itu Telaga Pauh diberdayakan oleh seorang Dansek Pauh (Dansek = Kapolsek). Ribuan bibit ikan nila dibenihkan di sana. Dengan adanya habitat ikan tersebut, endapan lumpur dibawahnya tidak meluluk seperti sekarang ini. Era keemasan dia saat itu. Saking banyaknya ikan, dengan umpan roti ditarik benang menjadi mainan pancing-pancing anak-kanak saat itu.

Ikan nila ada kalanya dipanen massal oleh masyarakat desa yang uangnya untuk kegiatan sosial, pembangunan musola dan biaya perawatan rumah ibadah tersebut secara berkala. Usai Pak Dansek purna tugas, Telaga Pauh kembali merana.

Saat ini telaga pauh airnya panas karena padatnya lumpur yang menyerap sinar mentari. Kerbau saja tak hendak berkubang di sana. Kejayaan Telaga Pauh berkirap seiring kepergian (pindah tugas) Pak Dansek yang masih dikenang oleh warga Pauh tersebut hingga kini.

Jika pembangunan zona pantai wisata dikembangkan, masyarakat Pauh berharap Telaga Pauh diikut sertakan. Bawalah dia kembali ke zaman Pak Dansek versi kini.

Oyong Liza Piliang