Home » , , » Anas Dulu Dan Sekarang

Anas Dulu Dan Sekarang

Written By oyong liza on Jumat, 15 Februari 2013 | 17.28

13608374041893473007

Rumah Anas Urbaningrum (foto : www.tribunnews.com)

Selasa petang, sebuah stasiun TV berita menayangkan situasi terkini rumah Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum di jalan Teluk Langsa, Duren Sawit. Seluruh bagian rumah itu kelilingnya dipasangi tirai berukuran besar yang diberi pemberat agar tak tersingkap saat diterpa angin. Kabarnya, tirai-tirai itu baru dipasang 1-2 hari ini sejak Pak Beye “mengkudeta” Anas dan ia jadi buruan media. Dengan dipasangnya tirai-tirai itu, pemburu berita tak bisa lagi mengintip aktivitas orang yang ada di dalam rumah tersebut. Kalaupun ada bagian rumah itu yang tak tertutup tirai – tampak di beranda belakang – namun sejumlah orang berjaga-jaga siap menghalangi siapapun yang mencoba membidikkan lensa tele-nya ke dalam rumah. Beranda belakang itu sudah mirip dapur umum saja layaknya. Sebuah meja besar penuh dengan wadah makanan untuk konsumsi para penjaga, justru jadi pemandangan yang bisa diliput. Bukan suasana di dalam rumah.

Bukan soal berapa biaya membeli tirai-tirai itu, bukan pula soal berapa uang yang dipakai membayar para penjaga, tapi ini soal kenyamanan penghuni rumah. Apakah enak hidup seperti itu? Meski rumah joglo besar dipenuhi 5 mobil mewah di garasi – ada Alphard, Harrier, Land Cruiser, Velfire dan Camry, dikelilingi para penjaga, tapi sesungguhnya para penghuninya telah kehilangan kebebasannya. Apa nikmatnya dikelilingi barang-barang mewah tapi harus menutup diri dari sekitarnya? Pagar seng nyaris setinggi atap rumah masih ditambah tirai. Rumah saya tak kemasukan sinar matahari 2 hari saja – kalau ditinggal pergi weekend – rasanya sudah pengab. Apa karena rumah saya kecil ya? Tapi rumah besar dan mewah kalau tak bisa lagi bebas disusupi sinar mentari, rasanya kehangatan dan keceriaan dalam rumah itupun kurang lengkap.

1360837468428614281
Wartawan menyanggong rumah Anas (foto : politik.news.viva.co.id)
Ingatan saya kembali ke masa-masa awal reformasi, saat mula Anas ngetop sebagai Ketua Umum PB HMI. Pasca jatuhnya Soeharto, layar kaca TV mulai kerap menyajikan diskusi dan dialog politik. Anas pun laku jadi nara sumber dari satu stasiun TV ke stasiun TV lain, meski saat itu belum ada TV berita. Sosoknya sangat sederhana, namun menampakkan kapasitas intelektualitasnya. Ia pun direkrut masuk dalam Tim Revisi UU Politik pada 1998, dan anggota tim seleksi parpol peserta Pemilu pada 1999. Tak pernah terdengar kabar Anas bekerja sebagai seorang profesional pada suatu instansi/perusahaan tertentu. 

Pada 2001, Anas terpilih menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk pelaksanaan Pemilu Legislatif dan Pilpres 2004. KPU pertama yang digawangi oleh para akademisi dan membawa harapan besar, dipimpin oleh mantan Rektor UI. Anas jadi anggota termuda, saat itu usianya masih 32 tahun.
Sayangnya, KPU saat itu sedikit tercederai dengan rumor kurang sedap terkait besarnya anggaran pengadaan kendaraan dinas operasional para Komisioner KPU yang nilainya dianggap terlalu besar. Memang kerja KPU saat itu relatif berat, karena untuk pertama kali Pemilu digelar dengan mencoblos nama caleg serta untuk pertama kali pula Pilpres dilaksanakan secara langsung. Jadi sebenarnya fasilitas mobil dinas sekelas Kijang Innova saat itu relatif wajar, apalagi mobil dinas itu statusnya pinjaman yang harus dikembalikan setelah tak lagi menjadi anggota KPU. Jadi bukan mobil dinas yang diberikan cuma-cuma.

1360837584951809859
Mobil dinas KPU Toyota Soluna, mobil dinas lama Anas yang dikembalikan (foto : news.liputran6.com)

Sayangnya, opini publik sudah terlanjur memandang negatif pengadaan mobil dinas komisioner KPU. Maka, tampillah Anas Urbaningrum dengan inisiatif pribadi ia menolak mobil dinas tersebut. Kebetulan Anas mendapat jatah Mobil Kijang Krista, boleh dibilang yang paling jelek dibanding Innova yang saat itu masih baru keluar. Senin, 12 Januari 2004, Anas ke kantor KPU mengantarkan mobil dinas Toyota Soluna lawas yang sudah jadi kendaraan dinasnya sejak jadi anggota KPU, setelah sebelumnya ia juga mengembalikan Toyota Kijang Krista baru yang menjadi jatahnya selama jadi komisioner KPU. Anas menjamin kinerja sebagai anggota KPU tak akan turun meski tanpa fasilitas mobil dinas.

Kontan nama Anas jadi buah bibir media massa, publik memuji kebersahajaan Anas dan idealismenya untuk tidak menerima fasilitas, sekalipun hanya pinjaman. Alasan Anas mengembalikan mobil dinas KPU saat itu : “Keputusan ini saya ambil demi ketenangan kerja saya, keluarga dan ketenangan ibadah ibu saya yang saat ini sedang menunaikan ibadah haji,” katanya. “Mudah-mudahan dengan cara seperti ini bisa jadi pelajaran buat semuanya. Dan kita dapat berfikir secara adil dan proporsional (dalam mengkritik)”, kata Anas Urbaningrum, di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Jumat (9/1/2004). “Saya agak tersiksa selama dua hari ini karena pemberitaan dan opini yang menurut saya agak berlebihan. Karena situasi seperti ini, saya berpikir secara pribadi dan bukan mencari popularitas serta pertimbangan lainnya akan berhenti menggunakan kendaraan KPU”.
Tak sampai 1,5 tahun kemudian, Juni 2005, Anas menyatakan diri keluar dari KPU, meninggalkan 3 rekannya yang masih tersisa : Ibu Chusnul Mar’iyah, Ibu Valina Singka dan Pak Ramlan Surbakti. Komisioner KPU lainnya – termasuk Ketua KPU – saat itu jadi terdakwa kasus “korupsi” pengadaan barang dan jasa Pemilu dan Pilpres 2014. 

Awal mulanya Mulyana W. Kusumah, komisioner KPU tertangkap tangan KPK sedang berupaya menyuap auditor BPK di sebuah hotel. Sebenarnya, nama Anas pun saat itu sempat disebut. Tapi dengan lompat pagar ke Partai Demokrat yang sedang naik daun, keterlibatan Anas tak pernah lagi disebut. Namun Anas menampik anggapan lari dari tanggungjawab hukum dalam kasus dugaan korupsi di KPU.

1360837817524021499
Hanya 5 tahun setelah bergabung dengan Partai Demokrat, Anas berhasil menjadi Ketua Umum (foto : www.merdeka.com)
Di Demokrat-lah Anas berkenalan dengan Nazaruddin, pengusaha muda kaya raya yang sukses. Anas yang ketika keluar dari KPU masih dikenal sebagai sosok yang sederhana, sejak itu bermetamorfosis menjadi pengusaha. Bersama Nazaruddin, Anas menjadi pemegang saham pada PT. Panahatan yang berdasarkan data pada Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum dan Hak Azazi Manusia, SK Nomor AHU-22783.AH.01.02.Tahun 2008 tanggal 5 Mei 2008, tercatat memiliki 35.000 lembar saham yang per lembarnya senilai Rp. 1 juta. Dengan kata lain, Anas memiliki saham senilai Rp. 35 milyar, sama besar dengan Nazaruddin. Sedangkan M. Nasir – saudara Nazar – memiliki 30% saham senilai Rp. 30 milyar.

Berikut Akta PT. Panahatan yang bisa dilihat pada situs Viva disini.

13608380841859123508
Semua itu hanya kurang dari 3 tahun pasca Anas keluar dari KPU dan menjadi salah satu Ketua di jajaran pengurus DPP Partai Demokrat periode 2005 – 2010. Kelanjutannya, publik semua sudah mendengar sejak Nazaruddin ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK pada Mei 2011 lalu, namanya nyaris tak pernah sepi disebut oleh Nazar berikut beberapa bukti yang dibeberkan Nazaruddin. Bahkan KPK menganggap kasus suap mobil Harrier yang kini dimiliki Anas yang menurut Nazar diperoleh dari fee proyek Hambalang, sudah dianggap terbukti (keterangan pimpinan KPK Adnan Pandu Praja kemarin), hanya saja nilainya kurang dari 1 milyar.

Masih ada beberapa lagi ocehan Nazar yang perlahan-lahan terbukti atau setidaknya dibenarkan pihak lain. Ketika Nazar berceloteh soal bertebarannya uang dalam bentul rupiah dan USD di arena Kongres PD di bandung pada Mei 2010, setidaknya ada beberapa DPC yang membenarkan dan mengakui menerima uang, bahkan lengkap dengan bukti box kemasan BlackBerry Gemini. Artnya ocehan Nazar bukan omong kosong.

Kini, setelah Andi Alifian Mallarangeng ditetapkan jadi tersangka juga, Rizal Mallarangeng pun berkali-kali melakukan konpers menyebut-nyebut peran dan keterlibatan Anas dalam proyek Hambalang. Padahal, sebelum AAM jadi tersangka, mereka semua diam bahkan menutupi keterlibatan Anas dan menyangkal keterangan Nazaruddin. Kini semakin banyak yang ikut membebek keterangan Nazaruddin.

13608381762132350248
Masihkah penghuninya bisa hidup tenang kalau rumah mewah harus disembunyikan seperti ini? (foto : foto.detik.com)
Betapa cepatnya waktu berlalu. Jika pada awal 2004 Anas mengembalikan mobil Kijang Krista dengan alasan demi ketenangan dirinya, keluarganya dan ibunya, kini Anas justru tidak tenang dengan mobil mewah yang dimilikinya. Meski berusaha tampil tenang, tapi keresahan Anas terbukti sampai merasa perlu menutupi rumahnya dengan tirai-tirai lebar meski bangunan rumahnya sudah tertutup seng warna hijau. Kemana idealisme dan kesederhanaan Anas? Kenapa kini Anas tak lagi merasa perlu mempertimbangkan ketenangan istrinya, anak-anaknya, ibundanya di Blitar, mertuanya yang pemimpin pondok pesantren?

Kekayaan Anas yang mendadak menggelembung – dibandingkan ketika masih jadi anggota KPU – memang begitu pesat peningkatannya. Hanya pengusaha sukses yang bisa melipatgandakan harta kekayaannya dalam waktu singkat. Padahal, Anas dalam berbagai kesempatan mengaku tak pandai berbisnis. Ia hanyalah seorang politisi. Kalau seorang politisi kekayaannya berlipatganda dalam waktu singkat, kira-kira dari mana asalnya? Tanda tanya besar inilah yang membuat masyarakat geram. Anas secara hukum memang masih orang bebas, statusnya bukan tersangka apalagi terdakwa. Tapi di mata masyarakat, ia sudah jadi terpidana. Betapa cepat waktu mengubah segalanya…!

Ctatatan Ira Oemar Freedom Writers Kompasianer

Artikel Terkait

Share this article :