Berita Terpopuler

Pages Pariaman News

Diberdayakan oleh Blogger.

Menyaksikan Wajah Mu Di Angkot Bandung

Written By oyong liza on Minggu, 30 September 2012 | 23.39

Paha saya bersenggolan dengan paha seorang ibu dari rombongan ibu ibu pulang kerja dari sebuah pabrik konveksi dalam kesesakan sebuah angkot di Bandung. Agak gerah salah satu dari mereka membuka lebih lebar jendela. Mereka ketawa bercanda canda. Bahasa Sunda mereka enak didengar di telinga. Walaupun hampir tidak mengerti artinya sama
sekali, saya tebak pastilah obrolan mereka tentang event yang lucu lucu.
Bos mereka mungkin lupa menutup resleting celana. Si Neneng di bangku
jait nomor tiga sedang diudak ( dikejar ) oleh si Sumantri bagian packing
baju dan celana. Senyum mereka mengalahkan semua teman orang kaya
yang pernah saya kenal. Di sini di dalam angkot sesak di pertengahan jalan
by pass Sukarno-Hatta, setelah belasan tahun meninggali negeri sendiri.
Untuk pertama kalinya saya sadar kenapa saya lebih merasa  menjadi
orang Sunda dari pada orang Minang sendiri.

Manusia begitu ramah di Bandung. Seorang penumpang laki laki setengah
baya kelihatan bahagia waktu saya puji jam tangannya yang bermerek mahal
tapi palsu. Di buka dan sodori jam tangan kebanggaan itu dalam angkot yang
mulai kosong menjelang perapatan Hotel Horison. Saya senyum dan puji dua
kali. Kemudian naik seorang tua pensiunan abri katanya. Kacamatanya tebal.
Memakai batik resmi sebab ingin melihat cucu nyanyi di acara sekolahan.
Lalu naik seorang ibu muda dengan anaknya yang mirip boneka cina. Anak
kecil terlucu dan tercantik yg pernah saya temui di dalam angkutan umum
di Indonesia. Supir yang di depan itu suami saya, katanya. Mereka turun di depan
kedai  jual ban bekas setelah memberi sang suami nasi bungkus dan air
untuk lunch. Naik  dua anak cewek SMP dan SMA. Sibuk ber SMS ria. Wajah mereka
cute dan kalau mereka pindah sekolah di Jakarta, mungkin bisa jadi juara lomba kekecean
antar kelas se ibu kota.


Hidup seperti tidak bermasalah untuk orang Bandung. Bahkan waktu seperti
tidak perlu tergesa gesa. Kemiskinan memang kelihatan juga di mana mana.
Tapi cara menghadapi kemiskinan seperti berbeda antara orang Bandung
dan Jakarta. 2 orang pengamen bocah berdendang dengan suara jelek
dan sumbang di lampu merah perapatan. Isi lagunya adalah tentang
cinta dan optimisme yang berlebihan. Bocah pertama bergaya dengan
alat musik seperti gitar yang dibuat dari kardus dan kayu entah bekas apa.
Bocah kedua berakting seperti drummer sebuah rock band ternama, sibuk
menabuh drum yang terbuat dari container air minum Aqua. Ketika tidak
ada yang tangan yang mengulurkan uang, mereka tidak marah dan memberi
komen yg sarkastik  seperti pengamen Jakarta. 2 bocah penuh senyum itu
justru naik dan bertengger dipinggiran angkot ketawa ketawa.

Tidak pernah saya menyaksikan sebuah kemandirian dan ketegaran orang seperti
2 bocah pengamen ini . Dulu saya pernah merasa begitu bangga bisa hidup mandiri
sejak umur 19 di luar negeri. Tapi sekarang saya begitu cemburu dengan 2 orang
bocah di Bandung yang begitu happy seperti menertawai semua tantangan hidup. Termasuk
tantangan hidup keras bertahun tahun yang pernah saya lalui di luar negeri.
Merasa penasaran, saya tawarkan pada mereka untuk menyanyi beberapa lagu.
Lalu merekapun tanpa sungkan dan malu segera bernyanyi 2 lagu cengeng dan sendu.
Mata mereka bersinar sinar bahagia. Kebahagiaan yang tidak bakalan anda
dapatkan dari seorang direktur suatu perusahaan yang baru menang tender
sekalipun.

Keindahan prosa wajah wajah lelah.Abstraksi kemiskinan yang cuma
bisa dinikmati manusia berperasaan halus. Cuma dengan duit 20 ribu rupiah
ya Tuhan. Cuma dengan uang yang tidak cukup untuk membeli medium fries
di Mc Donald, saya menyaksikan wajahMU sekali lagi. Di Bandung…..

salam Habe dari Amerika

Suatu Pagi Dimusim Gugur


Musim hangat sudah pergi entah ke mana. Kutub utara
mengembangkan sayap dinginnya menutupi Nihonmatsu yang sepi. Langit kuat tersaput awan kelabu yang sendu. Sebaliknya pohon-pohon mulai ganti baju, bersolek menggincui daunnya, kuning, merah, dan coklat.
Beberapa di antaranya melayang gugur mewarnai jalan yang dilalui oleh anak sekolah menuju impian masa depan mereka. 

  
Pada musim gugur yang dingin begini, bangun pagi adalah pekerjaan
yang memberatkan. Maunya aku terus tidur siang malam di balik selimut yang hangat. Maunya aku menjadi beruang yang tidur nyenyak selama musim dingin. Maunya aku bisa menjelma menjadi beruang dan berhibernasi panjang.


Kalau pada musim panas burung-burung sudah menyanyi
pagi-pagi dengan gembira untuk membangunkan matahari
dan aku, pada musim gugur ini kerapkali kesiangan
mereka bangun. Otomatis matahari dan aku juga tidak
bisa membukakan incat mata sebelum pukul 6. Ketika
coba aku bangun, yang terdengar hanyalah sisa-sisa
nyanyian serangga malam sayup-sayup dari kejauhan yang
meninabobokkan hati.


"Bangun!"

Suara siapa itu? Rasanya kenal aku akan suara itu?
Mungkin aku bermimpi, jadi begitu saja mata ini
dikatupkan lagi dan tidur lagi. Tiap orang tahu bahwa
tidur nyenyak adalah salah satu masa yang paling
bahagia dalam hidup manusia.

"Cepat bangun! Sudah waktu!"
Kali ini suara itu kedengaran lebih keras seperti
petir yang menyambar. Aku sadar suara itu keluar dari
mulut Natsuko yang mulai hilang kesabarannya dan
berdiri di depan pintu kamar tidur dengan muka yang
mengerikan.


Kalau tak bangun cepat, siraman seember air akan
membuatku tenggelam modar dalam kamar. Atau, tendangan
kungfunya bisa bikin nyawaku melayang cepat. Juga,
tebasan pedang samurai yang melayang menyamping
menebas merih ini bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

Aku belum mau mati. Jadi, cepat-cepat kusambar pakaian
dan pergi menuju kamar mandi. Menyiramkan air yang
hangat ke badan dalam udara yang dingin ini sangat
enak terasa. Suhu air dibuat sedikit lebih hangat dari
suhu badan. Itu juga kebahagiaan yang tidak ternilai
dalam udara yang dingin ini.


Sehabis mandi, aku sarapan pagi yang terdiri dari dua
potong roti tawar dengan selai kacang dan segelas
besar teh panas sambil sedikit membaca surat kabar.
Sesudah istirahat sejenak, seperti monyet Gunung
Singgalang aku mulai menyantap irisan pisang yang
diatasnya disirami yoghurt.


Biasanya persiapan pelajaran hari berikutnya
kulaksanakan pada malam hari bersebab selalu tak ada
waktu pada pagi hari. Sesudah sarapan pagi, hanya
tersisa waktu sedikit sebelum bus balai latihan
datang. Waktu yang beberapa menit ini kupergunakan
untuk melamun sambil memandang ke luar. Aku kira
melamun juga salah satu masa yang paling bahagia dalam
hidup manusia.


"Bus segera datang! Nanti terlambat!"
"Ya," jawabku dan keluar dengan tergesa-gesa.
Mungkin teori evolusi bisa dipakai sebagai rujukan
mengapa perempuan tahun-tahun terakhir ini menjadi
lebih kuat. Mungkin kata yamato nadeshiko* sudah tidak
ada lagi dalam kamus masyarakat Jepang. Mungkin hanya
laki-laki yang sudah menikah yang bisa mengerti bahwa
kadang-kadang perempuan lebih mengerikan daripada
seekor harimau.


Itu adalah satu hari aku pada pagi hari musim gugur
yang dingin. Pagi berikutnya drama kehidupan yang
mirip akan terulang lagi. Kalau aku tak menulis lagi,
berarti sesuatu terjadi, termasuk kemungkinannya
merihku sudah habis ditebas biniku.


*Yamato nadeshiko adalah sebutan buat perempuan Jepang
yang cantik, anggun, menawan hati, dan setia pada
suaminya.


catan Edizal di Jepang

Senandung Dusun





Semalam di ambang kelam tiba dia di dusun ini sehabis menelusuri jalan tanah yang jauh dari lalunya mobil. Raungan mesin mobil dengan derik-derik logam yang bersentuhan tidak hadir di sini. Deretan sawah ladang yang ditingkahi hutan rimba menemani perjalanannya dari terminal dusun terakhir tempat turun dari tumpangan bus yang terakhir.

Orang-orang dusun yang membawa panenan serta sebuah

pedati yang dihela kerbau yang dikemudikan kakek tua
berwajah ramah hanya yang ditemuinya di jalan itu.
Hangat sambutan mereka terus membekas sampai dia
mengumbar salam masuk rumah keluarga paman yang
menerimanya dengan kesukacitaan yang alami.

Ah, bahasa ini terasa akrab sangat dan menyatu dalam
jiwanya. Berbeda nian dengan kehidupan kota dengan
bahasa Indonesia yang banyak mencemari tradisi
berbahasa daerah. Bahasa kampung itu sudah dianggap
sebagai ketinggalan zaman dan pantas disingkirkan
dalam arus modernisasi dan globalisasi yang kian
menggila. Perhitungan diperbuat berdasarkan tingkat
kepraktisan. Bahasa daerah tidak dikategorikan dalam
dunia kepraktisan hidup bersebab tidak mampu menunjang
fenomena tersebut.


Hari sudahlah pagi. Jauh dilayangkannya pandangan
memboyong lamunan yang menukik ke balik bukit yang
jauh itu. Sudah beranjak setahun waktu semenjak
terakhir kali jejak ditinggalkan di tanah subur
perbukitan sana. Adakah sudah inyiak merasakan
kehadirannya kini di dusun ini? Adakah inyiak masih
bagai dulu merasa senang diri tinggal sendirian di
samping lebatnya rimba yang gelap itu?

Tungkai dilangkahkannya menapaki pematang sawah yang
setengah sudah ditinggal pergi embun pagi yang bening
dalam dekapan cerianya mentari. Menghijau daun padi
mulai menguning menyatukan dusunnya dengan sungai
kecil yang tak berorang. Deretan ubi kayu yang
merimbun daun menjaga beberapa tumpak sawah di
sebelahnya.


Senandung kecil burung pipit senang menanti penuh
harap akan masa menguningnya padi penyangga hidupnya.
Seperti burung yang menempel pada seorang laki-laki,
kehadirannya di dunia ini merupakan berkah yang
menjadi dari kepingan inlet yang menyatukan alam ini.
Nyanyiannya dalam titinada yang anggun meneduhkan hati
para insan sejati yang mendengarkannya. Anak-anak
pipit yang mungil dan belum terbang layak malu-malu
menyembulkan wajah dari bulu-bulu sayap halus kasih
bundanya yang mulus lagi hangat manakala sosok batang
tubuhnya mendekat lewat.


Di pematang yang didandani rerumputan liar tenang air
mengalir menjauh sehabis menitipkan humus mentah yang
bakal menjelmakan bulir-bulir padi yang bernas.
Gemericik suaranya menelusuri pematang menuju haribaan
sungai yang mendambakannya pun kehangatan kasihnya
menyegarkan ikan yang berenang kian kemari.

Kelebat seekor ikan garing yang lambat menjauh menarik
matanya manakala kakinya mendarat dari satu batu ke
batu lain atas sungai yang jernih itu. Panjangnya
mungkinkah satu dua telapak tangan? Besar kecil
bebatuan bersembulan atas permukaan air menyerahkan
dirinya untuk diinjaki menuju seberang. Bisikan lembut
sunyi kerelaan mereka yang keras tak terjangkau oleh
pendengaran manusia yang sudah kebas.

Sayup-sayup sampai kedengaran bunyi gitar yang pekak
nada mencemari senandung alam yang merdu ini. Ah, dari
kapan gitar dipetik di dusun yang terpencil ini?
Lamban laun bunyinya kian jelas. Tersadar dia akan
pagi yang sudah merekah dalam rimba metropolitan
jakarta yang sumpek dengan sampah manusia yang tidak
terurus.


Perlahan disingkapkannya jendela kayu reot untuk
mengizinkan sinar mentari menghangati kamar kosnya
yang murahan. Jendela besar berlubang-lubang itu
mempersembahkan pemandangan seorang anak muda yang
duduk di pinggir jendela mansion house yang mahal di
seberang kali ciliwung sambil menyenandungkan lagu
kenangan akan negerinya yang jauh.


"Satu korban lagi jatuh. Harusnya tidak dibiarkan dia
merantau jauh dari ranah itu," celetuk JD bersiap-siap
berangkat ke kantor menyelesaikan rancangan proyek
pembangunan jembatan yang akan mengawinkan pulau
sumatra dan jawa.


catatan Edizal Di Jepang

Sebuah Pesan Untuk Guru Dan Ortu



(SEBUAH EMPATI UNTUK GURU DAN RENUNGAN BAGI ORTU)

Saya adalah anak generasi tahun ’70-an. Ketika pertama kali masuk SD dulu, tahun ajaran baru masih dimulai pada bulan Januari. Jaman saya bersekolah, ragam sekolah tak begitu banyak. Hanya ada SD Negeri, SD Inpres, lalu ada Madrasah yang kurikulumnya pendidikan agama dan sekolah swasta yang tak banyak jumlahnya. Jaman dulu, sekolah negeri jadi incaran. Selain dari segi biaya tidaklah terlalu mahal, kualitas guru dan sarana pendidikannya biasanya lebih baik.

Meski beruntung diterima di SD Negeri terfavorit di kota kecil saya, ternyata tak semua teman saya sempat sekolah di TK. Karena itu tak semua siswa kelas 1 bisa baca-tulis dan berhitung. Guru SD-lah yang mengenalkan abjad dan angka pada kami. Anak siapa saja bisa masuk SD negeri. Latar belakang sosial ekonomi teman-teman saya sangat beragam, juga tingkat pendidikan orang tuanya. Karena itu, pola asuh yang dikembangkan di keluarga masing-masing siswa tentu berbeda. Di sekolah, guru-lah yang menyeragamkan aturan dan disiplin. Kalau datang terlambat atau tak mengerjakan PR, bakal dihukum. Siswa yang nakal, biang ribut di kelas, suka mengganggu teman, akan di “setrap” di depan kelas, bahkan bisa jadi baru boleh pulang belakangan.

Tiap hari Senin, guru agama akan berkeliling memeriksa kerapihan dan kebersihan penampilan kami. Kalau ada siswa pria berambut gondrong, acak-acakan, atau siswi yang kuku jari tangannya panjang apalagi kotor, guru akan mengambil gunting, memotong rambut dan kuku kami. Kenapa guru agama? Ya, karena kebersihan sebagian dari iman dan itu aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Tak ada orang tua murid yang tersinggung, marah apalagi sampai melabrak guru, hanya gara-gara rambut atau kuku anaknya dipotong. Orang tua “nrimo”, karena bagi mereka sekolah adalah ruang dimana otoritas adalah milik guru. Maka segala aturan disiplin dan standar perilaku, diserahkan pada guru untuk menggariskan dan menegakkannya.

Dulu, kalau ingin anaknya bisa sholat dan mengaji, biasanya kalau sore orang tua menyuruh anaknya pergi mengaji. Bukan pada TPA yang formal dan terstruktur seperti sekarang, tapi pada guru ngaji informal yang dibayar seikhlasnya, tempat belajarnya di musholla/langgar/surau atau di rumah guru ngaji. Biasanya, guru ngaji jaman dulu dikenal lebih galak ketimbang guru sekolah. Sambil memegang sebatang rotan yang dipakai untuk menunjuk rangakain huruf Hijaiyah di papan, mata tajam guru ngaji melihat siapa saja yang mengantuk dan tak menyimak bacaan Al Qur’an dengan benar. Yang mengantuk tandanya siang kebanyakan bermain, tak mau tidur siang. Ujung batang rotan itu bisa mendarat di tangan kami dan membuyarkan kantuk kami. Tak ada orang tua yang protes apalagi sampai memperkarakan guru mengaji yang memukul anak mereka. Meski bukan guru formal, guru mengaji seolah mendapat mandat penuh dari orang tua santri untuk mengajarkan agama dan budi pekerti pada anak mereka.


Dari jaman ke jaman, selalu saja ada anak nakal, siswa bandel, biang keladi semua keributan. Itu wajar, namanya juga anak dan remaja. Ada yang sifatnya cenderung melawan, suka membantah, tak mau menurut. Makin menginjak remaja, sikap perlawanan itu makin menjadi. Sekali lagi, tugas guru-lah mengatasinya. Tiap guru punya cara sendiri menghadapi siswa yang sulit diatur. Ada yang sabar dan memilih cara halus untuk menghadapinya, ada yang memilih tak mempedulikan siswa yang bandel – paling-paling diberi nilai jelek untuk mata pelajaran yang diajarkannya, ada pula yang memilih menanganinya dengan cara kasar. Tapi sekali lagi, jarang sekali orang tua siswa tahun ’70 –‘80an yang menggugat guru. Tampaknya orang tua jaman dulu sadar konsekwensi logis dari mereka menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak mereka kepada guru.

Anak remaja di jaman saya bersekolah, juga biasa berkelahi. Tapi umumnya satu lawan satu, tidak main keroyokan. Dan yang lebih penting lagi : berkelahi dengan tangan kosong! Efek paling parah : wajah babak belur, pakaian kotor atau sobek. Pulang ke rumah tak berani mengadu pada ortu. Kalau ketahuan guru, sudah pasti dihukum berat. Dan kalau dihukum guru, mana berani mengadu ke ortu, bisa-bisa ortu akan menghukum juga.

Ada satu hal yang bisa saya tarik disini : remaja jaman dulu tidak mendapatkan toleransi dan perlindungan – bahkan dari orang tuanya sendiri – ketika mereka melakukan kekerasan. Terkadang, bahkan ortu sendiri lah yang mengantara anaknya ke wali kelas, jika kedapatan berkelahi sepulang sekolah. Ortu meminta guru menghukum anak mereka. Dulu pernah ada teman mengaji saya yang sok jagoan di kampungnya. Dia sering berkelahi dengan anak sebayanya. Ortunya melaporkan pada guru mengaji – sebab lawan berkelahinya bukan siswa satu sekolah dengan si anak – untuk dihukum dan dinasehati. Maka, tak ada tempat berlindung dan minta pembelaan bagi anak yang sok jagoan.

Lalu bagaimana dengan jaman sekarang? Guru tampaknya berada pada posisi sulit. Mereka tak bisa lagi mudah menjatuhkan hukuman pada siswanya. Salah-salah, siswa yang kena “setrap” mengadu pada ortunya, malah guru yang ganti diadukan ke polisi. Orang tua tahunya anak mereka baik-baik, tak ada hak guru untuk menghukumnya. Sementara, ketika terjadi tawuran antar pelajar sepulang sekolah, pertanyaan di berbagai media dialamatkan pada guru : dimana peran guru?


Coba kita tengok beberapa kasus belakangan ini. Sekelompok siswa sebuah SMA di kawasan elite, yang jelas-jelas melakukan bullying terencana pada adik kelasnya, dibela mati-matian oleh orang tua mereka. Guru dan pihak sekolah tak lagi bebas menegakkan hukum pada siswanya. Meski sejak awal mereka tak menunjukkan penyesalan, tak menganggap apa yang mereka lakukan itu bukan sekedar salah tapi juga terlarang, orang tua turun tangan membela. Bila perlu, sewakan pengacara, bawakan LSM yang atas nama hak anak, mencarikan dalih bahwa mereka tak boleh dihukum. Lalu bagaimana dengan hak untuk mendapatkan rasa aman bagi anak yang di-bully?! Bukankah menganiaya orang lain, apapun alasannya sama sekali tak bisa dibenarkan?

Lalu kenapa ortu /wali murid jaman sekarang lebih permissive pada perilaku tak terpuji anak mereka? Mungkin ini juga bentuk tindakan apologize karena selama ini orang tua kerap lalai memberikan perhatian dan waktunya pada anak mereka. Berapa banyak orang tua yang masih menyempatkan diri melepas anaknya berangkat ke sekolah sampai di pintu depan rumah, membiasakan anaknya mencium tangan mereka, lalu menepuk pundak anaknya atau mengelus kepalanya sambil berpesan : “Hati-hati di jalan ya, Nak” atau “Baik-baik ya di sekolah”. Kalimat-kalimat yang terdengar klise. Tapi kalau diucapkan setiap hari, akan tertanam pesan di benak si anak, tentang harapan ortunya agar mereka jadi anak baik-baik, berhati-hati dijalan dan bukannya jadi raja jalan atau cari gara-gara di jalan.

Banyak orang tua yang tidak terlalu mengenal watak dan karakter asli anak mereka. Sebuah contoh nyata adalah Ibunda Afriani. Ketika pers menguliti kebiasaan Afriani dan teman-temannya yang terbiasa dugem kalau weekend, terbiasa mengkonsumsi miras dan narkoba, si Ibu tetap saja bersikeras putrinya anak baik yang tak mungkin melakukan hal itu. Kendati foto-foto yang diunggah sendiri oleh Afriani di akun jejaring sosial miliknya menggambarkan hal itu, status FBnya menunjukkan kebiasaan “party”, tetap saja si Ibu tak percaya putrinya begitu. Bahkan dalam wawancara di TV, ibunya mengatakan tak yakin putrinya mengkonsumsi miras dan narkoba, karena sesaat setelah menabrak Afri langsung menelpon ibunya dan suaranya masih normal, tidak seperti orang mabok. Padahal, jelas-jelas hasil test urine tak diragukan lagi membuktikan mereka telah mengkonsumsi miras dan ecstasy.

Pengalaman pahit pernah dialami keponakan saya yang bersekolah di sebuah SMA IT di kawasan Jabodetabek. Waktu itu keponakan saya masih kelas 1 SMA. Karena jam belajarnya sampai jam 3 sore, tiap hari ibunya (adik ipar saya) membawakan bekal makan siang komplit. Kebiasaan membawa bekal makan siang ini sudah dijalani keponakan saya yang sejak SD memang bersekolah di SDIT, SMPIT dan SMAIT yang sama. Sekali waktu ia mengadu pada ibunya kalau bekal makan siangnya kerap diminta temannya. Mendengar hal ini, adik ipar saya menambah porsi bekal anaknya, sekiranya cukup untuk dimakan 2 orang. Lauk pauk semuanya dobel.

Suatu pagi, saat jam pelajaran baru berjalan, si teman “tukang palak” ini menanyakan pada ponakan saya : “Mana bekal makan siang lo?”. Keponakan saya yang takut, segera menunjukkan wadah bekalnya. Anak ini pun langsung memakannya dengan lahap seperti kelaparan, meski sambil sembunyi-sembunyi. Keponakan saya dengan takut-takut melirik bekal makan siangnya yang sudah hampir habis. Ia pun berujar “Eh, jangan dihabisin dong! Sisain buat gue, ntar siang mo makan apa?”. Memang keponakan saya tak dibekali uang dalam jumlah banyak, agar tak terbiasa jajan di luar. Tapi apa yang diterima keponakan saya? Sebuah bogem mentah mendarat di pelipisnya.

Malam hari, menjelang tidur, barulah keponakan saya melapor pada ortunya, kalau siang tadi ia tidak makan sembari menunjukkan lebam di pelipisnya yang dicoba ditutupi rambut. Tak terima anaknya diperlakukan semena-mena, esok paginya adik saya datang ke sekolah dan melapor pada guru kelas, Ternyata, anak yang suka memalak makan siang ini bukan anakk orang tak mampu yang tak bisa memberinya bekal! Kedua ortunya dokter spesialis, yang sejak pagi sudah berangkat ke RS tempat mereka praktek. Anaknya dibekali uang lebih dari cukup untuk beli sarapan dan makan siang. Bahkan menurut keterangan temannya yang setiap hari berangkat sekolah berboncengan motor dengan anak itu, pagi hari sebelum kejadian, temannya sempat mengajak mampir untuk membeli nasi kuning buat sarapan. Tapi si anak dokter ini tak ikutan membeli, ia lebih memilih memalak bekal makan siang keponakan saya. Lalu untuk apa uang pemberian ortunya? Tidakkah ortunya khawatir anaknya membeli narkoba?

Sekitar 4-5 tahun lalu, saya pernah diundang ke sebuah SMK Teknik yang bekerjasama dengan perusahaan tempat saya bekerja, dalam rangka pendidikan sistem ganda. SMK itu memang SMK unggulan. Karena saya datang lebih pagi dari jam undangan, saya dipersilakan menunggu di ruang guru. Ternyata saat itu ada seorang guru yang sedang memarahi sekaligus menasehati seorang siswa. Siswa itu kemudian disuruh kembali ke kelas. Gurunya pun bercerita : anak tadi sebenarnya anak pintar. Ayahnya sudah lama meninggal, ibunya tak menikah lagi dan hanya jadi buruh cuci dari rumah ke rumah. Belakangan, anak itu berteman akrab dengan anak dari seorang ibu pejabat, kepala sebuah instansi Pemerintah, bapaknya juga punya jabatan.

Sejak bersahabat dengan anak orang kaya, si anak buruh cuci ini jadi malas sekolah dan lebih banyak nongkrong di warnet untuk bermain game online. Tentu saja yang membayari si anak orang kaya itu. Berkali-kali guru sudah merazia mereka. Orang tua si anak yang pejabat sudah dikabari, tapi mereka tak percaya anaknya suka bolos. Karena jengkel, akhirnya pihak sekolah menjemput si ibu di kantornya, meminta beliau tidak naik mobil pribadi atau mobil dinasnya tapi ikut mobil sekolah. Lalu diajak ke sebuah warnet dekat sekolah, untuk memergoki anaknya sedang asyik main game online saat jam sekolah. Barulah si ibu percaya anaknya bandel. Kendati demikian, si ibu memilih mengajak pulang anaknya dan tidak menyerahkannya pada guru untuk diberikan hukuman sesuai aturan.

Nah, inilah ambigu dunia pendidikan jaman sekarang. Di satu sisi orang tua seolah menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak mereka pada guru-guru di sekolah, namun di sisi lain, ketika ada masalah, anaknya berulah, orang tua tak mau guru mengambil tindakan. Orang tua turun tangan ketika sudah ada masalah, itupun bukan untuk meng-endorse pengegakan disiplin dan hukum sesuai aturan, tetapi justru untuk mengintervensi disiplin dan hukum, mengupayakan privilege bagi anak mereka. Akibatnya, sama sekali tak ada pembelajaran pada diri siswa. Anak tak belajar dari kesalahan yang dibuatnya. Boro-boro ada efek jera, bisa jadi malah si anak berpikir : “Ah.., nanti juga kalau aku bermasalah, ortuku pasti membela. Mana berani guru menghukumku”.

Anak gemar tawuran, anak suka keroyokan dan berperilaku anarkhis, tentu banyak faktor penyebabnya. Anak tak terbebani rasa salah alias cuek, tidak menyesal saat melakukan perbuatan salah bahkan menjurus ke kriminal, juga banyak aspek pemicunya. Sungguh tidak adil, jika tanggung jawab hanya dibebankan pada guru dan sekolah sebagai institusi. Kalau benar orang tua menyerahkan pendidikan anaknya pada guru dan sekolah, maka mereka juga harus rela jika guru menegakkan aturan pada semua siswa tanpa pandang bulu. Orang tua harus ikhlas anaknya menerima akibat hukum dari perbuatannya, termasuk jika tidak disiplin dan tidak berlaku sopan pada guru. Jangan ajari anak menginjak-injak hukum. Sebab kekacauan itu timbul karena lemahnya penegakan hukum.


catatan Ira Oemar Freedom Writers Kompasianer

Tawuran Pelajar Perlu Solusi Bukan Menteri

Written By oyong liza on Sabtu, 29 September 2012 | 15.47

13488796172075797082

Pelajar SMA siap berangkat ke medan tawuran (foto : metro.news.viva.co.id)

Pernah mengalami bangun tidur badan bintul-bintul bekas digiti nyamuk, sementara dekat pembaringan kita seekor nyamuk dengan badan gendut tampak enggan terbang. Lalu dengan semangat kita tepuk si nyamuk : plaakk!! Puas rasanya, meski sprei ternoda darah nyamuk. Atau sembari nonton TV, pegang raket beraliran listrik, ketika seekor nyamuk terbang disekitar kaki, tebaskan raket dan…creess!! Bau gosong tubuh nyamuk membuat kita merasa puas. Lalu bagaimana kalau rasa puas itu diekspresikan ketika seseorang usai melukai atau membunuh orang lain?

Belakangan, media sosial ramai membicarakan komentar Mendiknas Pak Nuh, yang mengaku surprise, kaget, karena ketika beliau bertanya pada AD, siswa yang membunuh Deny Januar, siswa SMA Yayasan Karya 66 (Yake). Publik kemudian lebih fokus membicarakan diksi pertanyaan Pak Nuh yang dianggap bodoh, tidak cerdas, dari segi bahasa tidak tepat de-el-el. Sementara – sama sekali tanpa bermaksud membela Pak Nuh – kita semua sama-sama tidak tahu konteks situasi saat itu kenapa diksi semacam itu yang keluar dari mulut Pak Nuh.

Saya hanya sekedar mencoba menggali kemungkinan dari sisi sebaliknya, sebelum tanya itu terlontar. Bisa jadi, saat itu Pak Nuh melihat ekspresi AD yang cuek, dingin atau tak tampak rasa penyesalan dari sikap tubuh dan raut wajahnya. Bukankah komunikasi itu bukan hanya yang verbal terucap, tapi justru body language bisa berbicara lebih banyak? Coba ingat, bagaimana reaksi publik  ketika Afriani Susanti yang tampak cuek bebek, santai saja meski usai menabrak 13 pejalan kaki yang 9 diantaranya tewas seketika. Bahkan Afriani yang saat itu masih dalam pengaruh berbotol-botol miras dan ecstasy sekaligus, masih sempat menulis tweet : “Emang salah gw?! Salah temen-temen gw?!”. Lalu apa kesimpulan yang ada di benak para saksi mata saat itu? Afriani tidak menyesal. Dan semua saksi mata di lokasi kejadian memberikan keterangan yang sama kalau ditanya pers.

Nah, mungkin saja Pak Nuh geregetan saat melihat ekspresi AD yang cuek dan tidak menunjukkan penyesalan. Sehingga tanya yang spontan keluar adalah : “Bagaimana Mas, puas sudah membunuh orang?”. Kalau saja saat itu AD menunjukkan sikap penyesalan mendalam – seperti tayangan berita kriminal yang saya tonton di TV beberapa waktu lalu, dimana pembunuhnya membunuh secara spontan karena tak tahan ditagih hutang – semisal menangis, atau ekspresi penyesalan lainnya, mungkin kalimat tanya yang keluar dari mulut Pak Nuh bukan itu.

Bahkan ada yang mencurigai Pak Nuh sengaja menjebak AD dengan pertanyaan seperti itu, agar dia menjawab “puas”. Ah…, saya rasa tak mungkin Pak Nuh sengaja menjebak AD, untuk apa? Ada pula yang mempersoalkan panggilan “Mas” yang seolah mensejajarkan pelaku sebagai orang dewasa. Mungkin kita perlu pahami, bahwa dalam masyarakat Jawa, sapaan “Mas” dan “Mbak” bisa disandangkan pada siapa saja, tanpa memandang usia. Dulu ketika saya masih mahasiswa dan bekerja praktek di perusahaan, karyawan disana memanggilkami “Mbak” dan “Mas”. Ketika kami KKN di desa, Pak Lurah yang sudah tua pun memanggil kami “Mas” dan “Mbak”. Jadi tak perlu disalah tafsirkan terllau jauh, ini hanya faktor kebiasaan budaya semata.

13488798331196011191
Barang bukti yang disita polisi dan pelaku tawuran. Ada niat sejak awal menyiapkan peralatan perang seperti ini (foto : www.solopos.com)

EKSPRESI BANGGA DENGAN PERILAKU KEKERASAN

Tapi sudahlah, saya bukan ahli bahasa Indonesia, saya tak tertarik membahas kalimat tanya itu. Saya justru menangkap pesan penting dari kejadian ini : sebagian siswa SMA jaman sekarang memiliki beban psikososial yang berat! Bayangkan, membawa clurit dan aneka sajam ke sekolah, tentu sudah direncanakan dari awal. Clurit bukan sesuatu yang bisa ditemukan begitu saja di jalanan, bukan? Apalagi kabarnya clurit itu kerap sengaja disembunyikan di selokan dekat sekolah atau dititipkan di warung tempat nongkrong di sekitar sekolah, demi menghindari razia guru di sekolah. Bukankah ini berarti remaja-remaja itu sadar sepenuhnya perbuatannya terlarang dan melanggar hukum, tapi mereka tetap ingin melakukannya?

Seseorang yang terbiasa membawa clurit sekalipun, misalnya seorang penyabit rumput untuk memberi makan ternak, belum tentu punya nyali menyabetkannya pada manusia, atau bahkan pada kambing gembalaannya sekalipun! Artinya, sajam itu akan berbahaya bergantung pada niat awal untuk apa sajam itu disiapkan. Dan niat itu bergantung pada jiwa penggunanya. Seseorang yang jiwanya sehat, tentu tak ada keinginan untuk menyerang, melukai apalagi membunuh makhluk bernyawa, apalagi sesama manusia.
Inilah yang seharusnya lebih kita terima sebagai suatu fakta : anak-anak kita sehari-hari berangkat ke sekolah bukan membekali dirinya dengan buku dan alat tulis

Mereka memenuhi tas sekolahnya dengan clurit, pisau, ikat pinggang panjang dengan gear bergerigi di ujungnya, potongan besi panjang yang bisa membuat kepala bocor sekali pukul, bahkan dengan batu-batu sebesar kepalan tangan orang dewasa. Jadi, mereka bukan bersiap untuk belajar, mereka bersiaga untuk diserang atau menyerang! Maka, tak perlu heran kalau mereka memang sejatinya benar-benar puas, karena merasa telah mengalahkan musuh, telah bisa menyerang duluan sebelum diserang. Bukankah tanpa di tanya pun ekspresi itu bisa dibaca dari mimik muka dan sikap tubuh?

13488800211018069516
Beginilah ekspresi jagoan saat sekelompok siswa menyerang wartawan di SMA 6 setahun yang lalu. Sama sekali tak ada ekspresi belas kasihan melihat korbannya sudah terdesak dan tak mungkin melawan dikeroyok banyak siswa sekaligus (foto : wartanews.com)

Kemarin saya baca tulisan di Kompasiana, kabarnya ada yang men-tweet : “anak SMA 6 dan SMA 70 lebay! Baru mati satu saja sudah heboh!”. Nah, bukankah ini juga ekspresi betapa tidak berharganya nyawa di mata remaja kita? Mungkin sebagian dari kita masih ingat, setahun yang lalu, September 2011, sekelompok siswa SMA 6 Jakarta menyerang sekelompok wartawan dari berbagai media yang sedang berkunjung ke sekolah mereka. Kasus itu jadi ramai dibincangkan karena tweet dari salah satu pelaku pengeroyokan yang dengan sangat bangga dan arogan menunjukkan betapa dia “sukses” menganiaya wartawan sampai babak belur. Tweet itu kemudian di retweet berkali-kali dan mengundang banyak kecaman. Bahkan dicopas pula ke status Facebook beberapa penggunanya. Publik dibuat geram karena seorang anak belasan tahun, siswa sebuah sekolah favorit, ternyata sangat bangga melakukan penganiayaan sadis.

Kita juga pernah dikejutkan dengan status FB seorang remaja, saat terjadi bentrok antar suporter klub bola di Jakarta, yang menyebabkan tewasnya seorang suporter klub bola lawan. Si penganiaya dengan bangga menulis di FB-nya bagaimana ia “berhasil” menganiaya musuhnya sampai mati. Kabarnya, pelaku bisa diketahui justru karena status FBnya yang dimaksudkan sebagai bentuk pamer kebanggaan pada pacarnya. Miris bukan?

Inilah realita yang seharusnya kita tangkap : anak-anak remaja kita bangga dengan kekerasan. Mereka menjadikan tolok ukur eksistensi dirinya dari “keberanian” menyerang siapapun yang dianggap musuh. Dengan atau tanpa pertanyaan yang diajukan Pak Nuh, tiadanya rasa penyesalan bahkan justru rasa puas karena berhasil menghabisi “lawan”, tetap tak bisa dinafikan. Tanya Pak Nuh justru sekali lagi menyadarkan kita, bahwa anak-anak kita sudah sangat terbiasa melakukan kekerasan untuk mendongkrak eksistensi dirinya.

13488801561287242510
Hj. Elly Risman Musa, psikolog, pemerhati anak dan konsultanb parenting (foto :koran.republika.co.id)

GAME ONLINE, SALAH SATU KONTRIBUTOR ANARKHISME

Psikolog Elly Risman – yang dikenal sebagai pakar parenting dan pemerhati anak – sejak beberapa tahun lalu sudah merisaukan hal ini. Dalam berbagai kesempatan, Bu Elly selalu mengingatkan para orang tua tentang bahaya game online bagi anak-anak. Tak main-main kata Bu Elly Risman, jika kita membiarkan anak-anak kita terbiasa asyik dengan game online, jangan heran jika kita sebenarnya sedang mendidik teroris-teroris cilik yang akan terbentuk watak, karakter dan perilakunya dengan pola kekerasan.

Betapa tidak, menurut Bu Elly, dalam banyak game online yang themanya pertarungan antar tokoh game, kekerasan selalu mendominasi. Darah muncrat seolah nyata. Alat-alat yang digunakan untuk menyerang lawan pun menginspirasi anak untuk menggunakannya sebagai alat menyerang siapapun yang dianggap musuhnya. Anak yang memainkan dipicu untuk lebih dulu menyerang sebelum diserang. Lebih cepat memulai menyerang, lebih baik. Makin sadis caranya menyerang, dan melumpuhkan musuh, makin puas pula si pemain game. Adrenalinnya seolah terpicu untuk terus menyerang sebelum musuh terkapar tak bergerak dan darah membanjir disekitarnya.

Jaman sekarang, warnet-warnet yang lokasinya dekat sekolah atau di perumahan yang banyak anak usia sekolah, lebih banyak terminalnya yang berfungsi sebagai game online ketimbang untuk browsing. Anak-anak yang jenuh dengan padatnya jam pelajaran di sekolah, pulang ke rumah tak bertemu orang tua, lebih suka nongkrong di warnet. Berjam-jam tanpa terasa lewat begitu saja untuk bermain game online. Dan tanpa disadari pula, kehalusan jiwanya terkikis oleh kekerasan yang dipertontokan. Rasa jijik melihat darah, berganti jadi rasa puas melihat darah muncrat dari tubuh lawan.

Jadi…, masihkah kita meragukan bahwa memang sebagian remaja kita sudah teracuni kebiasaan berperilaku anarkhis dan sadis? Apa kita masih tetap lebih tertarik mempersoalkan diksi pertanyaan seorang Mendikbud ketimbang mengambil hikmah dari fakta yang terjadi? Bukankah lebih baik kita mendiskusikan bagaimana sebaiknya agar anak-anak didik itu kembali membawa buku dan alat tulis ketimbang celurit dan ikat pinggang bergerigi. Bagaimana agar adrenalinnya lebih terpicu untuk memecahkan soal matematika yang rumit, ketimbang untuk menyerang lawan. Bagaimana agar anak-anak itu puas karena jago main bola ketimbang jago menghantam anak sekolah lain. Ini bukan semata tugas guru, beban sekolah, tapi ini tugas orang tua, beban , masyarakat. Mungkin anak kita termasuk anak baik-baik, tapi dia tetaplah tak aman jika lingkungan dan teman-temannya masih gemar tawuran. Sebab anak baik-baik dan pendiam sekalipun bisa jadi korban salah sasaran penyerangan antar pelajar.

catatan Ira Oemar Freedom Writers Kompasianer

Kemenangan Jokowi Sudah Jauh Hari Diketahui Dalam Budaya Minang


kebersamaan baik itu dalam sebuah Ormas maupun pertemanan, sepalanta, adalah hal yg lumrah diminangkabau ini, apalagi diranah piaman,pertemuaan acap kami lakukan dipalanta kedai kopi, kami membahas apa saja, baik itu politik, sosial ,hukum, budaya, proyek bahkan sampai pernikahan, sebagaimana yg barusan kami bahas dipalanta kedai kopi samping BPD kota Pariaman. jika anda ingin menjadi Sarjana Lapangan, belajarlah dari palanta-2 kedai kopi, bergaul dengan orang banyak, sebagaimana yg dikatakan Iwan Piliang tempo hari kepada saya "Doktor lapangan lebih bernilai dari Doktor text book" ujar beliau dg mimik tegas, sembari memberikan komparasi tokoh nasional yg Doktor text book dengan tokoh minim pendidikan, namun kaya ilmu sosial dilapangan, inilah diploma yg sesungguhnya kata Iwan Piliang kepada saya tempo hari.

dipalanta kedai kopi dakemong , dipelataran parkir pasar putih, dekat janjang 40 kota Bukittinggi, sayapun acap berlungguk bersama sahabat-2 dan senior-2, dakemong yg cina minang sudah macam saudara saja bagi kami, ia pintar menyeduh kopi cina, yg sering dilabeli kopi O, kopi seduhan dakemong adalah yg terbaik menurut lidah saya..

dalam jeda MUSWIL PEMUDA PANCASILA KE VI tgl 25/9/2012 di Bukittinggi tempo hari, H Trismon, Am Kartago, Wawako Sawahlunto, Faisal Arifin dan puluhan sahabat lainnya memenuhi palanta kedai kopi dakemong, kedai kopi tersebut amatlah sederhana, beratap traspal,gerobak, 3buah meja dan beberapa kursi plastik, semua kursi penuh terisi, semua yg datang termasuk saya mengenakan pakaian ciri khas Ormas kami, pesan kopi, pesan goreng ubi, kami bercengkrama.. tak ada yg kami bahas hal-2 yg menyangkut politik disini, perbincangan ringan , bagalak-2 , senda gurau dan reuni semacam tema yg terbentuk dg sendirinya bersebab beberapa nama yg saya sebutkan diatas sangat jarang bertemu satu sama lainnya dikarenakan kesibukan mereka, baik sebagai kepala pemerintahan,lawyer,politisi,pengusaha bahkan Akak balai..

saya berpendapat , menjernihkan hati,menganalogiskan pada sosok Jokowi ikhwal ilmu sosial lapangan yg tak ada kurikulumnya di fakultas manapun didunia ini. jokowi telah mencontohkan ini dalam cakupan yg luas, ia menguasai ilmu parewa pergaulan, jika dikomparasi dengan foke, saya berani memberi ponten 9 vs 5, dalam hal ini ilmu lapangan foke raportnya merah dimata saya, sedangkan jokowi mendekati sempurna, dalam artian lain Jokowi belajar dari alam, pengalaman, perjalanan hidup yg ia simpul dengan erat untuk ia bawa kejakarta untuk bertarung merebut kursi no.1 DKI. bak pepatah "banyak hiduik, banyaik dirasai,banyak bajalan ,banyak yg dicaliak, Alam takambang jadikan guru..mari belajar dari kehidupan..

catatan Oyong Liza Piliang

Inilah Penyebab Kemenengan Jokowi Atas Foke Sesungguhnya

Written By oyong liza on Jumat, 28 September 2012 | 21.09

1347858969152212637

sumber foto : rimanews.com

Saya bukan warga Jakarta, tak pernah punya keinginan berdomisili di Jakarta – bekerja di Jakarta saja sudah membuat saya “takluk” – tapi mau tak mau ikut mencermati hiruk pikuk Pilkada Jakarta yang gaungnya menasional, seolah pemanasan Pilpres saja.

Satu hal yang sangat saya sayangkan, dalam 2 bulan terakhir ini, pasca Pilgub putaran pertama, setelah hasil quick count menunjukkan siapa pasangan Cagub –cawagub yang berpeluang mempin jakarta diketahui, warga Jakarta justru dirugikan. Rugi karena mereka kehilangan kesempatan untuk menggali lebih dalam sosok calon pemimpinnya, bukan sebagai person tapi sebagai pemimpin yang akan menentukan nasib warga Jakarta. Bukan sebagai sosok dengan segala macam urusan privatnya yang tak perlu diperdebatkan. Tapi sebagai pemimpin yang memahami permasalahan warga, yang tahu kebutuhan warga dan tahu bagaimana mengatasinya.

Dalam 2 bulan terakhir ini perdebatan justru terfokus pada masalah pribadi sang calon, terutama soal issu SARA yang seperti sengaja dihembuskan. Sebab di putaran pertama masalah ini tak pernah dianggap penting, tapi menjelang putaran kedua seolah soal ini jadi issu utama. Coba pikirkan : pentingkah latar belakang agama ortu kandidat (seperti yang diusung Rhoma Irama)? Bukankah kita banyak mengenal tokoh yang tak diragukan kredibilitas dan dedikasinya lahir dan dibesarkan dari orang tua yang berbeda keyakinan dengannya? Semisal Muhammad Syafi’ie Antonio, pakar ekonomi syariah yang ikut membesarkan Bank Muamalat sejak awal mula berdiri,  yang terlahir dari ortu etnis China yang non Muslim. Dulu ada ustadz terkenal bernama Syaukani Ong,  seorang yang terlahir dari keturunan etnis China non Muslim yang karena mendapat hidayah lalu memeluk agama Islam dan jadi pendakwah. Pun juga ada ada Anton Medan, mantan preman sekaligus napi yang kini punya pesantren dan membina mantan napi. Jadi, relevankah membawa-bawa latar belakang agama orang tua Cagub dengan alasan untuk mengingatkan pemilih?

Begitulah hiruk pikuk Pilgub DKI, energi warga dan pendukung kedua pasangan Cagub terkuras untuk hal-hal yang sama sekali tidak esensial dan tak membuat mereka jadi lebih mengerti apa yang bisa diberikan kandidat jika kelak jadi pemimpin mereka.

Semalam, Metro TV menggelar debat Cagub-Cawagub. Saya berharap banyak bisa ikut mendengar lebih jelas apa yang akan mereka lakukan untuk Jakarta. Acara yang dipandu host Najwa Shihab dan Suryopratomo ini didesain cukup megah. Pendukung kedua pasangan sudah sejak sore memadati tempat duduk yang tersedia. Pertanyaan host pun cukup berbobot dan berkaitan langsung dengan masalah kronis yang membelit Jakarta. Sayangnya, cara menajwab kedua pasangan Cagub dan Cawagub yang menurut saya pribadi sangat mengecewakan. Isi jawabannya mungkin masih debatable, masih bisa disanggah oleh para pakar di bidangnya, masih perlu pembuktian saat mereka benar-benar terpilih nanti. Tapi cara mereka mengemukakan ide itu menunjukkan karakter pribadi yang sebenarnya. Sayangnya, kekecewaan selama 2 bulan akibat “bentrok” antar pendukung kedua calon baik di dunia nyata maupun di dunia maya, semalam seolah menjadi paripurna dengan penampilan kedua pasangan itu sendiri, yang ikut larut dalam perseteruan yang kekanak-kanakan.

13478590441305337345
sumber : cahayareformasi.com

Saya tak ingin membahas kehandalan dan reliabilitas dari program kerja 2 pasang kandidat itu. Saya  tak punya kompetensi menilai solusi masalah-masalah Jakarta yang ditawarkan mereka.  Hanya saja, dari caranya menjawab, terkesan Jokowi seolah sangat meremehkan dan menggampangkan persoalan di Jakarta. Saya cukup kaget, sebab tak menyangka Jokowi yang selama ini terkesan low profile, ternyata bisa juga bersikap sombong. Setiap kali memulai jawaban selalu diawali dengan kalimat yang bernada meremehkan persoalan.Begitupun bahasa tubuh dan mimik mukanya. Jika host mencoba melakukan pendalaman atau mengejar argumennya, sikap melecehkan ini makin menjadi. Itu kesan yang saya tangkap.

Tak jauh beda dengan Jokowi, Foke sebagai incumbent, juga jumawa seolah hanya dia saja yang ahli masalah Jakarta. Apa Foke belum kapok dengan tagline kampanye tahun 2007 “Serahkan pada ahlinya” yang justru berbalik jadi olok-olok ketika seantero Jakarta dilanda banjir besar hanya gara-gara hujan 2 jam saja, di bulan Oktober 2010 lalu. Saat itu, hampir semua warga DKI dan sekitarnya baru bisa sampai di rumah sepulang kantor, sekitar jam 12 malam atau jam 1 dini hari. Karena jalan-jalan protokol Jakarta tempat pusat perkantoran berada, baru bisa dilewati sekitar jam 10 malam. Saya yang saat itu masih berkantor di sebuah gedung perkantoran di jalan Sudirman, ikut merasakannya. Kontan esok harinya beredar BBM yang mengolok-olok Foke, lengkap dengan fotonya. So.., kalau kali ini Foke masih juga arogan dengan meng-klaim dirinya “ahli” Jakarta, tampaknya Foke tidak belajar dari pengalaman.

Saya makin kecewa ketika debat kandidat memasuki sessi terakhir, di sinilah karakter 2 pasang calon itu makin tampak nyata. Di sessi terakhir ini setiap pasangan calon dipersilakan mengajukan pertanyaan kepada pasangan lainnya. Foke yang mendapat kesempatan lebih dulu, mengingatkan Jokowi bahwa dia dulu pernah berjanji bahwa kepentingan rakyat Solo adalah segalanya. Tapi belakangan Jokowi mengatakan kepentingan warga Jakarta adalah segalanya. Foke menanyakan : konflik batin macam apakah yang sedang terjadi dalam diri Jokowi. Pertanyaan ini memang cukup telak, seharusnya dijawab dengan hati-hati. Point dari pertanyaan Foke ada “roso”, sebab orang Jawa umumnya mendahulukan “rasa”. Jadi semestinya jawabannya menyangkut perspektif Jokowi pribadi, sudut pandangnya sendiri tentang hal ini.

Namun sekali lagi saya harus kecewa, karena ternyata Jokowi menjawab singkat : toh Undang-Undangnya membolehkan seorang Walikota mendaftar jadi Cagub di tempat lain. Bukankah ini sebenarnya jawaban jauh panggang dari api? Yang ditanyakan bagaimana konflik perasaan dalam dirinya, yang dijawab UU yang membolehkan. (Semisal : jika di suatu daerah Perda-nya membolehkan miras dijual bebas, bagaimana pandangan kita sendiri. Kalau dijawab : selama aturan membolehkan ya boleh saja, maka itu tandanya kita sendiri tak punya sikap yang jelas). Ketika Foke mencoba mengejar, Jokowi makin membuka “kartu”nya : “Ya untuk peningkatan karir lah! Masak saya harus di Solo seterusnya sampai seumur hidup?” kurang lebih begitu jawabnya. Bahkan ia membandingkan ada kepala daerah yang demi peningkatan karir beralih menjadi Menteri. Saya sendiri sangat menyayangkan jika dasar pemikiran Jokowi ternyata sama pragmatis-nya dengan politisi lain, yang motivasinya karena peningkatan karir politik. Jadi…, kalau begitu kepentinga warga sebatas retorika? Entahlah, semoga saja Jokowi punya jawaban yang jauh lebih baik dari ini.

Ketika giliran Jokowi yang berkesempatan bertanya pada Foke, ia mencecar Foke dengan pertanyaan : Siapa sebenarnya yang beretorika, saya atau Pak Foke (terkait dengan pembangunan koridor busway, monorail)? Akhirnya, pertanyaan ini dan jawaban Foke, tak lebih hanya jadi ajang perang mulut saja, disaksikan dan sekaligus disuporteri oleh kubu pendukung masing-masing. Jadi mirip anak-anak yang berantem : kamu atau aku yang duluan salah?

1347859101144579657
sumber : article.wn.com

Saat Nachrowi Ramli dapat giliran bertanya, saya makin tak simpati. Bayangkan, forum formil dan dilihat jutaan pasang mata ini oleh Nara dijadikan ajang olok-olok yang tidak lucu. Nara memulai dengan kata-kata “haiyyaa.., Ahok…” lengkap dengan nada agak sengau mirip aksen etnis China dalam lawakan di TV. Nah, kalau calon yang didukung saja bisa melontarkan olok-olok seperti ini di forum resmi, pantas saja kalau tim kampanye dan pendukung-pendukung Foke – Nara gemar dengan issu SARA. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

Sebaliknya ketika giliran Ahok bertanya, ia dengan terang-terangan mengejek manajemen busway seperti manajemen warung tegal. Akhirnya, tak jauh beda dengan pertanyaan yang diajukan Jokowi, pertanyaan Ahok ini pun cuma jadi ajang saling ejek dan bukannya adu argumen yang esensial. Sayang sekali, warga Jakarta lagi-lagi disuguhi debat kusir seperti ini.

Menjelang akhir acara, kedua Cagub diminta mengapresiasi kelebihan lawannya. Seharusnya, sessi penutup ini bisa menjadi sarana cooling down yang efektif. Para Cagub bisa menitipkan pesan moral kepada para pendukungnya, bahwa sejelek apapun “musuh” kita, ia tetaplah punya kelebihan yang bisa diapresiasi. Para Cagub bisa menjadi teladan dengan menunjukkan sikap ke-negarawanan-nya, kalau saja mereka bisa berbesar hati mengeluarkan satu dua kalimat menyejukkan hati yang berupa apresiasi tulus atas pesaingnya. Sayangnya, keduanya memilih untuk berseteru sampai akhir!

Foke menilai “kelebihan”Jokowi adalah :  berani menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa dilaksanakan. Kata Foke, ia harusnya bisa belajar bagaimana melakukan pencitraan yang lebih baik dari Jokowi. Jelas pernyataan Foke ini bukan apresiasi yang tulus. Itu justru sebuah sindiran sarkastis. Kesannya : disuruh mengapresiasi kelebihan malah melontarkan pelecehan.

Seolah tak mau kalah, Jokowi pun setali tiga uang. Ketika diminta mengapreasi kelebihan Foke, Jokowi justru mengeluarkan pernyataan : Pak Foke dengan segudang pengalamannya di Pemerintahan seharusnya sudah bisa memutuskan bukan sebatas merencanakan. Sampai Najwa Shihab merasa perlu untuk meluruskan, bahwa yang ditanyakannya kelebihan Foke dari sudut pandang Jokowi. Jokowi pun menegaskan : ya itu, Pak Foke punya banyak rencana tapi gak bisa memutuskan. Nah…, jelas ini ejekan bukan? Sama sekali bukan apresiasi.

Akhirnya, sampai acar usai saya merasa prihatin, karena warga Jakarta dan pemirsa TV se-Indonesia hanya disuguhi gaya berantem elit politik tingkat tinggi yang piawai melontar ejekan dengan gaya satire. Bagi para pendukungnya – kedua pasangan memiliki pendukung fanatik dan militan – tentu dialog di Metro TV semalam tak akan mengubah pilihannya. Tapi bagi mereka yang  belum menentukan pilihan, bisa jadi dialog semalam justru makin membuat bingung : mana yang akan dipilih? Karakter dan sifat keduanya seolah terbuka dalam debat semalam. Selamat memilih warga Jakarta, semoga siapapun pemenangnya, akan mampu merealisasikan janji-janjinya semudah ketika mereka mengucapkan.

Dan semoga saja, kalau sudah menang nanti, mereka belajar menjadi negarawan, bukan sekedar politisi. Sebab kita sudah inflasi politisi tapi krisis negarawan. Lihatlah bagaimana Bu Mega bersikap, 2 kali Pilpres tak juga bisa mengalahkan SBY, ujung-ujungnya tak pernah mau menyapa SBY apalagi bersalaman. Tentu anak bangsa butuh teladan dari para pemimpinnya. Jika pemimpinnya memupuk permusuhan dan memelihara dendam, tentu tak heran jika peselisihan horisontal di akar rumput sulit dipadamkan. Warga Jakarta sudah bosan dengan tawuran dan bentrok. Pilkada Jakarta hanyalah satu event rutin pesta demokrasi 5 tahunan. Haruskah Jakarta terkubu menjadi 2 kelompok hanya karena beda dukungan? Saya masih berharap, kedua Cagub itu bisa memberikan teladan, bisa legowo menerima kekalahan, seperti Pak JK memilih mengabdi di PMI ketimbang merecoki pemerintahan SBY, misalnya. Selamat memilih warga Jakarta, saya ingin Jakarta aman dan damai.

catatan Ira Oemar Freedom Writers Kompasianer

Dihadang Ribuan Massa Baladiang Pembacaan Sita Eksekusi Batal ( Sengketa Tanah Ulayat 2500h)

Written By oyong liza on Kamis, 27 September 2012 | 15.51


pembacaan sita eksekusi kamis 27/9/2012 pukul 11.30wib,terhadap tanah seluas 2500 hektare yg hingga kini belum jelas tapal batasnya,oleh Pengadilan Negeri Lubuk Basung yg juga disertai BPN, anggota Polres Agam serta Tentara gagal karena dihadang ribuan massa yg tergabung dalam FPTU (Forum Pembela Tanah Ulayat), yg dipimpin Humasnya H.Syafril Huda.


hal tersebut dilaporkan oleh Ferry Nugrah SH Pimpinan koran InvestigasiNews kepada saya barusan, saya tidak kelapangan karena betul-2 sangat berhalangan,rapat penting serta koordinasi dengan senior-2 Pemuda Pancasila, sehari sebelumya adalah Muswil Pemuda Pancasila ke VI yg diselenggarakan di Istana Bung Hatta kota Bukittinggi, dan
hari ini  saya banyak agenda bersama sahabat-2 yg tergabung dalam Ormas Pemuda Pancasila, yg mana saya juga salah satu pengurus inti didalamnya.namun meskipun demikian, jauh-2 hari saya sudah koordinasi dg MetroTV korwil Agam untuk meliput pembacaan sita eksekusi pada tanggal 27/9/2012 ini.


berikut data dan keterangan dari Ferry Nugrah SH pimpinan koran InvestigasiNews kepada saya :

menurut ferry, pembacaan sita eksekusi tersebut gagal dibacakan karena dihadang ribuan masa yg membuat portal berlapis-lapis untuk menghalau pihak-2 terkait membacakan eksekusi, masyarakat telah siaga jauh-2 hari, masyarakat yg bersenjatakan parang/ladiang tersebut siap mati demi mempertahankan tanah ulayat mereka ujar ferry.konsentrasi massa berlapis-2 , mereka menghadang diluar objek sengketa yg diperkirakan ferry berjarak 5 kilometer dari objek sengketa.

80 TRUK WARGA TIKU DILOKASI DAN 20 TRUK CADANGAN PENGANGKUT MASSA TAMBAHAN

rencana pembacaan sita eksekusi oleh PN L.Basung yg dikawal aparat tersebut mendapat perlawanan sengit oleh masyarakat kanagarian Tiku, lebih dari 5000 massa yg diangkut dengan 80 truk, bersenjatakan parang, serta 20 truk cadangan massa tambahan berhasil mengusir Instasi tersebut dari luar objek sengketa ujar ferry. aksi dorong-2 dan keributan sempat terjadi, masyarakat membuat pagar betis dilapisan pertama, lapisan kedua juga terdapat konsentrasi massa dengan portal kawat berduri, masyarakat disana siap dengan parang, mereka akan tebas siapapun yg masuk keportal ini ujar ferry, aksi dorong dan keributan tersebut diliput hampir semua media lokal Sumbar dan diabadikan oleh Kamera jurnalis MetroTV.TVone dan Indosiar.

sementara itu sebagaimana yg telah saya beritakan sebelumnya, bahwa FPTU adalah forum pembela tanah ulayat kanagarian tiku yg dulunya memberikan HGU (Hak Guna Usaha) kepada PT.Mutiara Agam / Minang Agro (PTMA),melalui basa nan barampek sebagai penguasa tanah ulayat kanagarian Tiku pada th 1993.namun disisi lain Yayasan Tanjung Manggopoh (YTM) Menggugat PTMA,dan ditingkat PK Dimenangkan oleh YTM. gugatan tersebut dinilai sangat keliru oleh ketua FPTU Agusmar dt Endah marajo "PTMA adalah numpang ditanah kami, harusnya YTM menggugat kanagarian Tiku.. bukan penumpangnya,ini kan aneh, dan mau menggusur kami sebagai pemilik tanah ulayat lagi? kesimpulannya tak sejengkal tanah ulayat akan kami berikan kepada siapapun,kami akan pertahankan sampai titik darah penghabisan" ujar Agusmar dt Endah marajo kepada saya tempo hari.

FPTU DAFTARKAN DERDEN VERZET (PERLAWANAN PIHAK KETIGA) TERHADAP YTM

Pada tanggal 21 september 2012 melalui kuasa hukum FPTU Hadi Warman SH MH Mendaftarkan Gugatan pihak ketiga melawan YTM Dengan no 29/pdt.G/2012/PN.LB.BS kepengadilan negeri Lubuk Basung yg beralamat di jl.DR.MOH.HATTA No.358 Yg dalam hal ini atas nama penghulu,niniak mamak,cadiak pandai dan pemerintah nagari Tiku V jorong,kec Tj Mutiara,kab Agam sebagai berikut :

1.H.A.M.DT.BANDAHARO umur 75th ketua KAN (Kerapatan adat nagari)Tiku V jorong

2. IR.A.RAJO DILIA umur 50th

3. A.DT MUDO  umur 68th

4. P.RANGKAYO KACIAK umur 52 th (basa nan barampek)

5.A.RANGKAYO BASA umur 40th (basa nan barampek)

6.K.BANDARO TUO umur 60th (basa nan barampek)

7.HERDIANTO umur 35th (wali nagari Tiku V jorong)

8.BAGINDO KARMAN umur 61 (wali nagari Tiku Selatan)

9.KANDARINI umur 46th (wali nagari Tiku Utara)

10.HARMONI umur 56th

11.MASRI Spd umur 48th

12.A.R.DT.RANGKAYO TUO umur 44th

13. M.PLT.DT.PANGHULU RAJO umur 50th

14.Z.DT.MANGKUTO DIRAJO umur 65th

15.H.SB.DT.PANDUKO RAJO umur 57th

16.A.DT.ENDAH MARAJO umur 46th

ke 16 orang tersebut melawan

1.A.DT.MAJO SATI umur 64TH
2.D.DT.TALAUT API umur 81th
3.SY.DT.BINTARO RAJO SKm umur 59th
4.N.DT.GANTO SUARO umur 41 TH
5.JP.DT.BANDARO HITAM umur 31th

catatan Oyong Liza Piliang

Tawuran Pelajar di Indonesia Memalukan !


                                          image source rakyatmerdeka.co.id




Seorang tua bertanya,”Kenapa sekarang banyak tawuran anak muda…?” ,sebenarnya jawabnya mudah saja yaitu “kayak nggak pernah muda aja….!” Tetapi karena yang bertanya orang tua ya musti dijawab lebih santun dan agak logis,”Itu lho….mereka besok mau menjadi Preman,sebab penghasilannya jauh lebih besar dari kerja kantoran…! Jadi perlu latihan dulu waktu di Sekolah Menengah…!”

Zaman sekarang preman pegang peranan dalam kehidupan bangsa ini. Pejabat dan politisi serta Pengusaha sekarang menggunakan jasa preman untuk mengintimidasi lawan politiknya/usahanya & kalau perlu membunuh dengan meminjam tangan si preman. Maka premanisme di Indonesia diolah sedemikian rupa tidak lagi persis zaman Orba dulu. Preman sekarang pakai jubah,pakai kopiah,pakai bendera merah-putih….pokoknya keren abis…! Dulu pakai tatto & pakaiannya acak-acakan,sekarang pakaiannya necis dan kelihatan sangat religius,walau tampangnya seram…! Ini persis dengan pelajar Sekolah Menengah yang tawuran belakangan ini,kelihatannya pakai seragam sekolah,bahkan SEkolah Unggulan lagi….! Tetapi lihat saja tampang mereka,muda…sadis dan kejam…! Tidak persis dengan tampang remaja yang polos dan ceria karena menikmati masa mudanya dengan berbagai kegiatan anak muda. Para pelajar Sekolah yang suka tawuran itu persis preman,bawaannya batu…pentungan….bahkan Clurit untuk membunuh lawannya…!

Mungkin saja para pelajar yang suka tawuran itu anak-2 binaan para preman senior yang sedang mencari kader ,sebab rekrutmen preman juga menyesuaikan kondisi zaman. Kalau dulu preman tidak lulus Sekolah Menengah tidak masalah,sebab yang penting punya nyali..! Sekarang kan tidak bisa begitu,persyaratan kwalifikasi preman ditingkatkan,yaitu paling tidak berpendidikan minimal SMU/SMK/sederajat. Ini untuk mengimbangi “demand” yang memang sedang tinggi menjelang 2014,dimana nanti mereka tinggal dikasih jaket mahasiswa Universitas tertentu untuk berdemo, menentang Capres, Cagub tertentu ,dsb…Pokoknya untuk dijadikan preman “demo” bayaran.

Para pelajar yang suka tawuran sambil bawa-2 clurit / senjata tajam sebenarnya berhati pengecut, persis para preman itu…Kalau berkelahi beraninya keroyokan,kalah berkelahi ajak teman lebih banyak untuk mengeroyok lawannya…! Perkelahian model preman ya seperti itu…! Kalau mereka “gentleman” maka ya diajak “pibu” saja di sebuah arena, satu lawan satu….! Tetapi dasar pengecut,maka ya beraninya keroyokan…!

Polisi atau aparat keamanan juga lemah dalam bertindak..! Sudah tahu anak-2 muda itu membahayakan masyarakat lingkungan, masih saja menggunakan gas air mata atau posisi bertahan sambil bawa pentungan untuk mengusir para pelajar yang tawuran..! Mereka diperlakukan seperti pendemo atau pengunjuk rasa yang selalu diharuskan tertib,tetapi kalau anarkis langsung ditembak…! Nah, Ini para pelajar sudah membahayakan dan bahkan berkali-kali membunuh diperlakukan seperti anak kecil berkelahi,padahal sudah bawa senjata tajam dan batu-2 yang dapat melukai dan membunuh orang. Aturannya ya musti ditembak ditempat saja karena sudah menyerupai demo anarkis,supaya para pelajar tersebut jera dan tidak dijadikan kader oleh preman senior…!

Tembak ditempat perlu segera diperlakukan oleh Polisi untuk mengatasi tawuran para pelajar yang disinyalir sudah ditunggangi oleh para preman…! Laksanakan…(jangan tunggu perdebatan lagi)..! Waktunya sudah sempit,jangan lagi ada korban orang-2 yang justru tidak ikut tawuran…!

catatan Mania Telo Freedom Writers Kompasianer

Mencari Sosok Ketua Di Istana Bung Hatta : Muswil Pemuda Pancasila Ke VI

                                             Risman Sirangi vs Leonardy Harmainy

dalam reportase kali ini saya tak bisa memisahkan diri antara jurnalis dan kader Pemuda Pancasila pada Muswil ke VI di Istana Bung Hatta Kota Bukittinggi, acara ini dihelat dua hari 25-26 september 2012, dan dihadiri langsung oleh Ketum Pemuda Pancasila (PP)Majelis Pimpinan Nasional ( MPN ) H.Yapto Soeryo Soemarno SH dan Sekjend MPN Drs.Nuhril beserta rombongan.
ketum Yapto diarak dengan bendi dari lap.kantin Menuju Istana Bung Hatta

kami enam orang utusan dari kota Pariaman yg diundang resmi, serta disediakan 2 kamar hotel, tepatnya Hotel dymens, (berpelayanan buruk, lampunya acap mati, gensetnya ga beroperasional dg baik)berangkat dg 3 buah mobil, saya dan Ferry Nugrah SH (pimpinan koran InvestigasiNews) lebih duluan sampai dilapangan Kantin Bukittinggi (sesuai permintaan bang Lucky ketua MPC PP Bukittinggi kepada saya tempo hari), disusul Ir Syafinal Akbar dan Jonasri Tanjung, kemudian Suardi P dengan Da Win.



dilapangan kantin inilah Ketum Yapto disambut, lalu dikalungi bunga dan diarak konvoi dengan bendi (delman,dokar) menuju Istana Bung Hatta, bendi masih sangat eksis dikota berhawa sejuk ini sebagai transportasi alternatif, bendi acap digunakan wisatawan domestik dan mancanegara sebagai transportasi, mereka bahkan mencarter berhari-2, ini pernah saya dengar langsung dari kusir (pengemudi bendi).



dalam acara seremonial, ada satu hal yg membuat saya terharu setingkat hampir meneteskan airmata, disaat paduan suara Sapma PP sumbar menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya (dan rupanya Ketum dalam sambutannya juga memuji akan hal itu),yg diikuti oleh semua hadirin yg hadir, sangat pas.. membangkitkan semangat patriotis dalam dada, saya persis betul berdiri dibelakang Ketum dan Sekjend MPN PP, saya lihat Om Yapto Meneteskan Airmata saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, matanya seketika memerah, saya bertanggungjawab dengan apa yg saya tulis ini.



dalam acara pada tgl 25 tersebut yg juga dihadiri Irwan Prayitno (Gubernur Sumbar),wako Bukittinggi, wako Payakumbuh dan seluruh unsur Muspida Kota Bukittinggi, mereka duduk dikursi bagian depan, menyimak ketika Ketum berorasi "PP dulunya dibentuk untuk mempertahankan , membela Pancasila dari ancaman Partai Komunis, seiring berlalunya waktu, saya mengakui stigma organisasi yg dicap Preman,kami instropeksi diri,back to zero, kembali pada khitahnya sebagai Ormas bela negara,menjadikan PP yg dicintai masyarakat, pembela kesatuan NKRI berlandaskan Pancasila ,ini tantangan bagi kita bersama-sama" ujar Ketum dalam satu kalimatnya yg saya kutip,orasi beliau sangat memukau, meskipun pidatonya panjang, semua hadirin menyimak dengan seksama, begitu juga saya.



RISMAN SIRANGI VS LEONARDY HARMAINY

Pada rabu tgl 26 september pukul 11.30wib, masuk keacara puncak,dalam pleno ke-6, diputuskan siapapun boleh maju mencalonkan diri jadi Ketum Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila, waktu pengambilan formulir dibatasi 5 menit, Risman Sirangi lebih duluan mengambil formulir pencalonan, kemudian disusul Leonardy Harmainy, hanya dua balon ini yg akan ditetapkan sebagai calon, kedua nama tersebut dibawa kepada Ketum Yapto, beliau berada dikamar tersendiri disebuah hotel yg dulunya bernama Novotel, letaknya tak lebih 30 meter dari Istana Bung Hatta yg dulunya bernama gedung TRI ARGA dan pernah jadi Pusat pemerintahan RI , semasa kota Bukittinggi MENJADI IBUKOTA RI SEMENTARA .



KSATRIANYA RISMAN SIRANGI DAN SENIORITAS LEONARDY HARMAINY

 

ada satu hal yg mengejutkan para hadirin , dua calon kandidat , sama-2 kuat, sama-2 senior, Risman Sirangi yg faktnya telah jadi pengurus Inti di MPW PP Sumbar selama 20 tahun lebih secara ksatria ,dalam penyampaian visi dan misi mengundurkan diri, dan mengatakan "Saya Lebih Mempercayai bang Leo untuk memimpin PP SUMBAR untuk 5 tahun kedepan,bukan berarti saya tidak mampu, beliau adalah senior saya dan bukan berarti saya tidak ikut andil nantinya, saya berjanji,akan bahu membahu dengan bang Leo mengemban mandat dari MPN PP untuk membesarkan Pemuda Pancasila untuk masa bakti kedepan" katanya dengan tegas, dan tanpa unsur paksaan dari siapapun apalagi tekanan.



dengan demikian H Leonardy Harmainy dt Bandaro Basa kembali terpilih secara aklamasi dalam Muswil PP di Istana Bung Hatta ini, bukan pekerjaan mudah menjalankan mandat sebagai Ketua MPW kata bang Leo dalam orasinya "semua MPC musti bekerja keras nantinya, membentuk struktur organisasi ini ketingkat anak ranting, sebagaimana mandat Ketum"ujar bang Leo.



PP kedepan sebagaimana arahan Ketum MPN PP H Yapto Soeryo Soemarno SH, adalah Ormas bukan lagi OKP, pengkaderan dengan militansi wajib dilaksanakan guna mengembalikan Marwah Pemuda Pancasila , back to zero bukan hanya slogan, namun Musti dilaksanakan..! Pancasila Abadi !




catatan Oyong Liza Piliang

Tanda Tangan Kapolri Dalam Kasus Simulator SIM

Written By oyong liza on Rabu, 26 September 2012 | 20.26


Kaget….Terhenyak….! Begitu mendengar berita bahwa Kapolri Jend.Pol.Timur Pradopo diberitakan terlibat kasus Simulator SIM yang sedang ramai dibicarakan (sampai disinyalir ketegangan baru antara KPK dengan Polri juga karena kasus tersebut) ; Ternyata setelah ada penjelasan dari Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar,bahwa tanda tangan Kapolri dalam surat penetapan pemenang lelang pengadaan proyek itu hanya bersifat administratif sebab memang di dalam Perpres 54 Tahun 2010 diatur bilamana proyek di atas Rp100 miliar secara administratif itu harus diketahui oleh pengguna anggaran & Pengguna anggaran di institusi Polri adalah Kapolri…! Wah,rasanya yang mendengar itu cukup plong…Judul berita memang bisa mengagetkan orang banyak…

Tetapi ternyata rasa plong itu belum selesai juga,sebab sekarang masyarakat mulai bertanya-tanya (karena sudah semakin kritis),benarkah Kapolri tidak ikut “mencicipi” hasil korupsi kasus Simulator SIM bila ternyata memang nantinya oleh Pengadilan memang dinyatakan ada korupsi atas pengadaan Simulator SIM tersebut…? Bagaimana dengan yang membubuhkan paraf diatas surat persetujuan tersebut? Apakah mereka akan tanggung renteng terkena semua….?

Kenapa pertanyaan-2 tersebut muncul…? Ini bukan pertanyaan main-2 ,sebab masyarakat tahu,bahwa dalam urusan birokrasi di pemerintahan dan institusi-2 negara,ada semacam istilah “duit dari meja ke meja” yang dibagikan bila urusan mau lancar sampai keatas…! Kasus-2 penggelapan pajak yang terbongkar di Direktorat Pajak juga demikian adanya,cuman sayang kemudian hanya berhenti sampai ke tingkat tertentu saja,padahal Dirjen Pajak begitu kaya raya & kekayaannya entah diperoleh darimana…(mantan Dirjen Pajak sampai ada yang mengklarifikasi bahwa kekayaannya diperoleh karena hibah,dsb…? Benarkah…?)

Jadi,pertanyaan-2 itu harus mendapatkan klarifikasi segera dari Polri bila hal itu tidak mau menjadi gosip panas di masyarakat..! Sebab institusi Polri memang sangat disorot sebagai salah satu institusi yang korup di mata para LSM penggiat anti korupsi. Isu tentang setoran-2 ke atas dari mulai proses rekrutmen anggota Polri sampai proses kenaikan pangkat dan mutasi serta mempertahankan poisisi jabatan pun sering terdengar kencang gosip nya..! Apakah benar tidak ada setoran sampai ke Jenderal…? Terus bagaimana para Jenderal Polisi itu bisa sangat kaya raya….? Apakah hanya makan gaji saja bisa kaya…? Berapa harga motor gede yang dimiliki oleh beberapa perwira menengah sampai perwira tinggi Polri..? Apakah cuman Rp.15 juta saja seperti sepeda motor yang dipakai oleh kebanyakan rakyat di jalanan? Harga motor gede itu bisa mencapai nilainya diatas Rp.300 juta,man…! Adzubillah…! Terus gajinya berapa…? 
Katanya 100 % gajinya dikasihkan ke istrinya…? Koq bisa ya…?

Rakyat Indonesia sekarang sudah semakin banyak yang kritis,mereka tidak cukup hanya dengar pidato dan penjelasan yang muluk-2 dari seorang Jenderal Polisi. Walau terkesan diam pada waktu mendengarkan “pidato” atau penjelasan,namun mata hatinya terbuka dan mencibir, karena tidak bisa melawan maka ditimbulkanlah gosip atau meminta rekan-2 wartawan investigasi menulis berdasarkan fakta-2 yang dijumpai dalam dunia jurnalisme investigatif….! Bila itu sudah dibuka,apakah mereka masih punya hati? Kalau masih saja tidak tahu malu,maka jangan heran masyarakat akan menghakimi dengan caranya,persis ketika Foke & Nara & para pendukungnya “dihakimi” oleh penduduk DKI Jakarta…! Benar-2 dipermalukan sampai ke titik yang memalukan…!

Polri memang kali ini (kasus Simulator SIM) harus berjuang habis-2an…! Kalau tidak,maka jangan harap mereka bisa dipercaya bersih oleh rakyat Indonesia…!
Bravo,Tempo.co…..! 

catatan Mania Telo Freedom Writers Kompasianer

Mutasi Jelang Tabuik Kota Pariaman dan Stabilitas Birokrasi Ala Mukhlis Rahman


Perihal Mutasi dan Stabilitas Birokrasi di Daerah...

Senin pagi (24/09/2012), saya membuka facebook setelah terakhir hari jumat saya terakhir Online karena kesibukan saya pindah kontrakan dan beres-beres pada Sabtu-Minggunya. Sebuah hal lumrah jika hidup di rantau orang dan belum memiliki rumah sendiri. Saya membaca berita melalui wall  RRI Kota Pariaman yang menyebutkan bahwa Walikota Pariaman Drs. Mukhlis Rahman, MM melantik 74 pejabat eselon II, III, IV, Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah dilingkungan Pemerintah Kota Pariaman, Jumat (21/9/2012) di Balaikota Pariaman. Terfikir oleh saya entah sudah berapa kali terjadi mutasi dilingkungan Pemerintah Kota Pariaman sejak Kota Pariaman dipimpin oleh Walikota yang sekarang. Kapan pejabat di sini mempunyai waktu untuk melayani masyarakat kalau tiap sebentar terjadi mutasi dan pergantian pejabatnya..

Sejatinya Mutasi dilingkungan Birokrasi Pemerintah Daerah (baca PNS) adalah dalam rangka pengembangan dan pembinaan karier PNS di daerah. Namun pada kenyataannya seringkali mutasi pejabat struktural di daerah syarat dengan motif tertentu. Peran Kepala Daerah selaku Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah memang memberikan kewenangan untuk itu. Menurut ketentuan Pasal 130 ayat (2) Undang-Undang Otonomi Daerah Nomor 32 Tahun 2004, pengangkatan, pemindahan dan pemberhentian dari dan dalam Eselon II pada pemerintahan daerah merupakan domain kepala daerah (Bupati/Walikota). Ini menggambarkan Kepala Daerah mempunyai otoritas kuat dalam memetakan dan menentukan formasi jabatan di daerah. Dengan otoritasnya yang begitu kuat, implikasi penyalahgunaan wewenang ini sering kali terjadi dalam mengelola apartur atau pegawai negeri sipil daerah. Istilah raja-raja kecil di daerah salah satunya dimaknai karena kepala daerah sering menyalahgunakan kewenangan ini.

Salah satu dampaknya adalah akan berpengaruh pada stabilitas birokrasi. Mutasi yang terlalu sering dilakukan akan menyebabkan terganggunya kinerja birokrasi. Para pejabat tidak lagi konsen tugasnya sebagai pejabat. Ia akan sibuk memikirkan jabatannya (terutama bagi mereka yang memang gila jabatan/takut kehilangan jabatan). Disamping itu hal ini dapat menyebabkan dis-harmonisasi birokrat karena persaingan jabatan dan bisa memecah-belah PNS. Ini akan berpengaruh terhadap suasana kerja dan kinerja birokrasi itu sendiri. PNS akan lebih loyal kepada Kepala Daerah dibandingkan menjalankan tugasnya melayani masyarakat. Budaya ABS (Asal Bapak Senang) akan berkembang. Energi akan terserap untuk memikirkan konflik-konflik yang syarat akan kepentingan dalam tubuh birokrasi. Pada akhirnya pelayanan terhadap masyarakat tidak optimal dan muaranya masyarakat juga yang akan dirugikan. Ini menjadi patologi birokrasi tersendiri sebagaimana yang diungkapkan oleh Webber, bahwa menekankan dominasi kekuasaan yang berlebihan dalam menjalankan sistem birokrasi yakni jika kepala daerah dalam mengelola birokrasi menggunakan pendekatan kekuasaan yang membabi buta dalam mengatur birokrasi, mengatur perangkat-perangkat, jabatan, fungsi dan kewenangan berdasarkan kalkulasi tertentu.

Dalam sambutannya Walikota mengatakan bahwa “ketika jabatan dimaknai sebagai sebuah kekuasaan, maka jabatan itu sudah menjadi pedang, yang akan menebas siapa saja yang menentang dan bertentangan” (pariamankota.go.id). Mudah-mudahan Walikota sedang tidak menggunakan pedangnya. Selanjutnya Walikota juga mengatakan, “ketika sebuah jabatan diterjemahkan sebagai pemegang wewenang, maka kesewenang-wenangan menjadi sebuah kebiasaan”. Mudah-mudahan Walikota juga sedang tidak menggunakan wewenangnya untuk sewenang-wenang....Wallahu’allam bissawab.
 
catatan Rahmat Rio Yuherdi

Topik Terhangat

Paling Banyak Dibaca

postingan terdahulu