Cinta Kampung

Written By oyong liza on Kamis, 27 Desember 2012 | 22.12


Sekarang, mampu berbicara tentang hal-hal yang bersifat nasional, sudah menjadi tren tersendiri untuk beberapa anak muda. Berbicara menggunakan istilah khusus pun menjadi kebanggaan tersendiri. Semua seakan berlomba-lomba untuk mencari kesempatan berbicara tentang hal-hal yang sebenarnya tidak mereka mengerti seutuhnya. Sok mencaruti korupsi pada dunia politik, tapi ujian masih menyontek. Bukankah korupsi dan menyontek memiliki dasar kesalahan yang sama yaitu berbohong? 

Lantang mengomentari perekonomian yang cacat dan sebagainya, tapi belum mampu berpikir kritis untuk membangun industri kreatif. Berani memperdebatkan masalah pendidikan, tapi tidak pernah menghadirkan model pembelajaran inovatif. Dan sebagainya. Ikut berbicara pada sebuah masalah tanpa bijak mengadvokasi.
 
Sebenarnya tidak masalah jika memang berbicara atas dasar data, pengertian, fakta, atau sejarah yang benar dan menghasilkan solusi yang nyata. Nah, masalahnya sekarang, tren aneh tersebut malah dijadikan ajang keren-kerenan. Coba analisis secara sederhana saja, generasi macam apa yang akan tercipta?
 
Mayoritas media pun begitu, semua seakan saling membius dan dibius oleh segala macam pemberitaan pusat, sehingga melupakan banyak hal kecil yang perlu dibenahi dari lingkungan kita sendiri. Terhipnotis pada hal-hal besar, meremehkan hal-hal kecil, akhirnya semua usaha dan pekerjaan menjadi tidak semaksimal yang semestinya. Kita lihat saja tema diskusi-diskusi yang ada di sekeliling kita. Ada diskusi bela negara, diskusi UU Perguruan Tinggi, diskusi pemberantasan korupsi, dan sebagainya. Semua diskusi kebanyakan hanya berupa pemberian materi secara kaku, akhirnya diskusi akan berakhir mengambang, tanpa ada aksi tindak lanjut yang bermanfaat. Pernah tidak terbersit untuk mendiskusikan kebersihan toilet umum di Padang atau kebiasaan cimeeh orang Padang? Silakan menertawakan diri sendiri.
 
Tulisan ini sekedar ingin mengajak teman-teman untuk tidak melihat terlalu jauh dan mengambang. Coba kritis pada hal dasar yang akan memperkaya budaya dan mempengaruhi peradaban kita. Mulailah segala sesuatu dari diri sendiri dengan menjernihkan hati.
 
Saya sedang bermimpi mengupas kearifan lokal bersama teman-teman muda.  
 
Kita mengenang aset genetik Padang, seperti siamang dan beruk. Menciptakan merchandise unik dengan mencoba mengabadikannya dalam produk kreatif, seperti kaos, gantungan kunci, bahkan boneka. Menjualnya secara merata pada setiap toko terutama di lokasi wisata dan turisme. 
 
Setelah itu saya mencicipi kekhasan cita rasa makanan atau kuliner tradisional pada kunjungan ke Festival Kuliner Ketan. Ada lamang tapai, beragam lapek, galamai, beragam bubur, dan kue-kue an. Sayapun menikmati bubur ketan hitam kesukaan saya. Wah, ramai sekali pedagang yang menebar senyum di sini. 
 
Kemudian saya berterimakasih pada tim yang bekerja fokus dan memaksimalkan pelayanan pada daerah pariwisata Padang. Tiba-tiba saja saya berada di Bukittinggi dalam kereta api yang bergerak menuju Pantai Padang. Perjalanan yang luar biasa, bibir pantai begitu bersih dan pergerakan wisatawan terkontrol dengan tertib.
 
Seakan dipermainkan mesin waktu, saya baru saja mendarat dan sedang berjalan pada koridor bandara menuju hotel. Mereka memberikan atmosfir tradisional yang kental pada tempat-tempat yang terkait wisata dan turisme. Mulai dari kuliner lokal pada kafe-kafenya. Lagu dan instrumen musik lokal diputar mendengungkan telinga, Bahkan tarian beserta pakaian lokalnya ditampilkan pada lobi. Bukan hanya orang asing berambut pirang saja yang ikut meramaikan. Teman-teman muda pun banyak yang berusaha mengabadikan momen tersebut dalam kamera jinjingnya. 
 
Kemudian, adik-adik saya mulai terangsang ikut melahirkan dan melestarikan produk lokal Padang yang unik, di mana saja. 
 
Ahh, mimpi indah. 
 
Mengusap keringat pada dahi, lalu membatin, saya mencintai kampung saya.

Catatan Cornelia Napitupulu

Artikel Terkait

Share this article :