Ketika Tabuik Dihoyak Jenderal Tak Dikawal


Jam berapa Tabuik Naik Pangkat diak? " Jam 7 pagi bang ." jawab seorang pemuda . saya memperkirakan ia kurang tidur bersebab matanya memancarkan sinar keletihan sehabis begadang, reka hati.


saya mengambil beberapa Foto untuk diabadikan. hari menunjukan pukuk 09.00 wib. saya sarapan ditempat biasanya disamping BPD. mobil kali ini terparkir jauh didepan Surau Tarandam karena beberapa ruas jalan diampang Polisi demi ketertiban.

saya bersama Ferry Nugrah dan Hermanto sehabis makan siang tidak ada agenda apa-apa sebelum sebuah pesan Blackberry dari Iwan Piliang. Iwan mengabarkan ihwal Uncu Khairul Akbar lagi di Pariaman melihat tabuik. Khairul seorang Jenderal TNI AU Bintang Dua aktif yang menjabat sebagai SESTAMA (Sekretaris Pertama) Badan Penanggulangan Anti Teroris Indonesia.berapa pula pengawalnya pikir saya dalam hati."uncu kemana-mana ga pernah bawa pengawal" ujar Iwan Piliang, " dan sekarang lagi bersama Efendi Jamal." tutupnya dari seberang sana.

Hermanto, Mayjend Khairul Akhbar, saya dan Efendi Jamal

Tak beberapa lama saya tiba di Gubuk Salero, palanta barangin ditepi pantai Gandoriah Pariaman. selain bersama Efendi Jamal ,tak ada siapapun dimeja tersebut bersama Uncu Khairul. apa yang dikatakan Iwan Piliang benar adanya. beliau tak dikawal.. Ini sangat berbahaya jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan terhadap dirinya. Indonesia bisa gempar kalau Ia sampai kenapa-kenapa,gumam saya dalam hati.

Saya, Hermanto dan Ferry menyalami Sang Jenderal Paman Kandung Iwan Piliang. Uncu Khairul ternyata Paman pula oleh Istri Efendi Jamal. sempit betul dunia ini.

Kelapa muda segar dihidangkan dengan gelas bubung dihadapan saya dkk. cerita mengalir akrab. sang Jenderal begitu rendah hati Ujar Ferry beberapa saat kemudian kepada saya.


"saya acap pulang kampung.paling tidak sekali setahun, selalu begini, ga mau merepotkan."ujar Uncu Khairul ketika saya tanya kenapa tak bawa pengawal. disela-sela obrolan yang mengasikan terlihat jelas sosok santun yang pantas jadi panutan dari Uncu Khairul, rendah hati dan murah senyum ada dalam diri tanpa polesan. " Celok, istri Da Anas (celok adalah panggilan uncu khairul pada istri Alm Kol Anas Malik) adalah perempuan yang tegar, penyabar dan sangat rendah hati. waktu masih Perwira muda saya acap bertemu Da Anas, dia kerabat dekat kami." kenang Uncu, beliau menggambarkan bahwa sosok Anas Malik wajib ditiru,"sederhana,tegas,disiplin dan sangat punya Integritas tinggi" tukuknya.

entah kenapa bersebab sosok Anas Malik mulai sering jadi perbincangan. ia dikenang bila Pariaman mencari sosok pemimpin baru.namun yang keluar dari Mulut uncu Khairul tidaklah demikian penyebabnya," saya tahu banyak tentang sosok Da Anas juga dari tulisan oyong di Internet, saya suka bacanya. kemaren ada komentar Ilya anak Da Anas , saya juga baca." ujar Uncu.

Efendi Jamal juga menimpali,"Dimasa Sidang Tinja, saya masih Pns golongan 2, saya tukang tilang."

ujarnya cekikikan.

"pernah suatu hari, didepan mata kepala saya sendiri, sehabis menerima Amplop tebal berisi uang dari Bank BPD, datanglah seorang perempuan menemuinya diruangan Dinas. ia paling marah jika pegawai menghalangi masyarakat menemuinya.perempuan itu masuk, menangis dan menjelasakan tentang uang SPP anaknya yang belum dibayar, kesulitan rumahtangga dan segalanya.. Almarhum orang yang sangat tak tega melihat yang demikian,amplop  tersebut ia berikan utuh kepada ibu tersebut,tak selembarpun dikeluarkan.. Anas Malik memang Luar Biasa.." ujar Efendi Jamal mengenang.



jika tak hendak melihat Tabuik mungkin lama kami bercerita, belum lagi efendi jamal sebagai PNS musti kesana, Ia bersama Uncu Khairul. sebelum tabuik dihoyak ia didepak dari kursi Kadis Pariwisata Kota Pariaman, Pesta Tabuik yang barusan meriah kita tonton tersebut tak lepas dari Kreatornya.



Z,A Mande Ketua MPC Pemuda Pancasila Kota Padang ke Pariaman bersama Istri melihat pesta budaya ini, saya bersama ferry dan Hermanto sudah siap menunggunya, kami bawa ia keatas panggung besar dimana Mukhlis R Wako Pariaman Berpidato garing, apalagi Pidato Muslim Kasim. kami turun panggung menuju Pantai menunggu Tabuik tabuang diambang senja. disana kami bercengkrama  riang gembira hingga senja merebah seiring Tabuik menuju lautan  dibuang, dilangit, pelangi mengcurva dengan eloknya melukis pemandangan senja .

catatan Oyong Liza Piliang