Menyaksikan Wajah Mu Di Angkot Bandung

Paha saya bersenggolan dengan paha seorang ibu dari rombongan ibu ibu pulang kerja dari sebuah pabrik konveksi dalam kesesakan sebuah angkot di Bandung. Agak gerah salah satu dari mereka membuka lebih lebar jendela. Mereka ketawa bercanda canda. Bahasa Sunda mereka enak didengar di telinga. Walaupun hampir tidak mengerti artinya sama
sekali, saya tebak pastilah obrolan mereka tentang event yang lucu lucu.
Bos mereka mungkin lupa menutup resleting celana. Si Neneng di bangku
jait nomor tiga sedang diudak ( dikejar ) oleh si Sumantri bagian packing
baju dan celana. Senyum mereka mengalahkan semua teman orang kaya
yang pernah saya kenal. Di sini di dalam angkot sesak di pertengahan jalan
by pass Sukarno-Hatta, setelah belasan tahun meninggali negeri sendiri.
Untuk pertama kalinya saya sadar kenapa saya lebih merasa  menjadi
orang Sunda dari pada orang Minang sendiri.

Manusia begitu ramah di Bandung. Seorang penumpang laki laki setengah
baya kelihatan bahagia waktu saya puji jam tangannya yang bermerek mahal
tapi palsu. Di buka dan sodori jam tangan kebanggaan itu dalam angkot yang
mulai kosong menjelang perapatan Hotel Horison. Saya senyum dan puji dua
kali. Kemudian naik seorang tua pensiunan abri katanya. Kacamatanya tebal.
Memakai batik resmi sebab ingin melihat cucu nyanyi di acara sekolahan.
Lalu naik seorang ibu muda dengan anaknya yang mirip boneka cina. Anak
kecil terlucu dan tercantik yg pernah saya temui di dalam angkutan umum
di Indonesia. Supir yang di depan itu suami saya, katanya. Mereka turun di depan
kedai  jual ban bekas setelah memberi sang suami nasi bungkus dan air
untuk lunch. Naik  dua anak cewek SMP dan SMA. Sibuk ber SMS ria. Wajah mereka
cute dan kalau mereka pindah sekolah di Jakarta, mungkin bisa jadi juara lomba kekecean
antar kelas se ibu kota.


Hidup seperti tidak bermasalah untuk orang Bandung. Bahkan waktu seperti
tidak perlu tergesa gesa. Kemiskinan memang kelihatan juga di mana mana.
Tapi cara menghadapi kemiskinan seperti berbeda antara orang Bandung
dan Jakarta. 2 orang pengamen bocah berdendang dengan suara jelek
dan sumbang di lampu merah perapatan. Isi lagunya adalah tentang
cinta dan optimisme yang berlebihan. Bocah pertama bergaya dengan
alat musik seperti gitar yang dibuat dari kardus dan kayu entah bekas apa.
Bocah kedua berakting seperti drummer sebuah rock band ternama, sibuk
menabuh drum yang terbuat dari container air minum Aqua. Ketika tidak
ada yang tangan yang mengulurkan uang, mereka tidak marah dan memberi
komen yg sarkastik  seperti pengamen Jakarta. 2 bocah penuh senyum itu
justru naik dan bertengger dipinggiran angkot ketawa ketawa.

Tidak pernah saya menyaksikan sebuah kemandirian dan ketegaran orang seperti
2 bocah pengamen ini . Dulu saya pernah merasa begitu bangga bisa hidup mandiri
sejak umur 19 di luar negeri. Tapi sekarang saya begitu cemburu dengan 2 orang
bocah di Bandung yang begitu happy seperti menertawai semua tantangan hidup. Termasuk
tantangan hidup keras bertahun tahun yang pernah saya lalui di luar negeri.
Merasa penasaran, saya tawarkan pada mereka untuk menyanyi beberapa lagu.
Lalu merekapun tanpa sungkan dan malu segera bernyanyi 2 lagu cengeng dan sendu.
Mata mereka bersinar sinar bahagia. Kebahagiaan yang tidak bakalan anda
dapatkan dari seorang direktur suatu perusahaan yang baru menang tender
sekalipun.

Keindahan prosa wajah wajah lelah.Abstraksi kemiskinan yang cuma
bisa dinikmati manusia berperasaan halus. Cuma dengan duit 20 ribu rupiah
ya Tuhan. Cuma dengan uang yang tidak cukup untuk membeli medium fries
di Mc Donald, saya menyaksikan wajahMU sekali lagi. Di Bandung…..

salam Habe dari Amerika