Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

kalonok dan apak ayam

16 Juli 2012 | 16.7.12 WIB Last Updated 2012-07-15T18:13:00Z

Di hamparan rumput yang menghijau ayam-ayam sibuk bercengkerama bermain kejaran dengan serangga yang akan menjadi calon mangsanya. Lucu sekali melihat anak-anak ayam yang pontang-panting dengan kaki-kaki mungilnya berlatih mencoba menangkap serangga dan seringkali terjungkang sendiri bersama kegagalannya. Induk ayam sangat gesit menyambar sang mangsa, segera memanggil anak-anaknya, dan menyerahkan tangkapan tersebut dari muncungnya.

Makanan yang melimpah juga bisa mereka temukan di bawah dedaunan pohon yang menghampari tanah. Terlihat paruh dan kakinya bergerak lincah ke sana ke mari menyibakkan rumput dan mendapatkan serangga yang terlambat melarikan diri. Terkadang mereka juga menggaruk tanah yang lembut untuk menemukan cacing. Tarik tambang yang dilakukan oleh dua atau tiga ekor anak ayam memperebutkan seekor cacing yang dihadiahi oleh induknya merupakan pemandangan yang mengasyikkan pula. Sang pemenang bakal terjungkang ke belakang bersama cacing yang menjadi hak miliknya.

Di belakang rumah kami ada hutan yang cukup merimba dan sering juga menjadi ranah rantau bagi banyak ayam berpetualang mencari makanan. Bersebab hutan tersebut merupakan tempat tinggal banyak binatang liar pemakan daging, bepergian ke sana bagi ayam punya risiko yang cukup tinggi. Ada saja musang dan sebangsanya yang selalu mengincar ayam yang berdaging lezat itu.

Kalau musang berada dalam kelompok ayam, akan gampang baginya untuk menggaruk salah seekor di antaranya. Musang yang jahat wajib berpakaian mirip ayam dan berlaku bagai ayam biar tak diketahui identitasnya. Orang zaman dulu yang melihat laku musang tersebut menciptakan pepatah "musang berbulu ayam" (wolf in sheep's clothing) yang memberi makna akan orang jahat yang berlaku sebagai orang baik, mirip amat dengan banyak calon senator yang berhati dingin yang berkampanye ke sana ke mari dengan topeng yang ceria selalu tersenyum sembari mengumbar-umbar harapan kosong kepada rakyat yang berotak kosong.

Musang dan harimau seringkali berlenggang kangkung dalam hutan pada malam hari untuk mencari sesuatu pengisi lambungnya. Namun, binatang seperti kadal dan ular sering terlihat merayap mencari mangsanya pada siang hari. Elang yang terkadang melakukan patroli di atas dusun kami pun merupakan sosok yang ditakuti. Ada sejenis biawak yang panjangnya bisa mencapai 2 meter yang menunggui hutan di belakang rumah kami dan termasuk salah satu binatang liar yang tak disukai. Tak pernah ia menyerang manusia, tapi ada juga ia berhasil melarikan ayam kami.

"Seekor ayamku tak pulang," keluh Kalonok.
"Mungkin diterkam buaya," kataku.
"Tak ada buaya di dusun kita," jawabnya.
"Kemarin dulu adik perempuanku melihat biawak merayapi belakang rumahmu," tutur Irin.
"Pasti biawak yang melarikannya," tegas Kalonok.
"Kita cari dia," anjurku.
"Ya," balas yang lain.

Ini boleh jadi naluri alamiah dalam lingkungan kami, yaitu keinginan untuk menyingkirkan atau membunuh binatang liar yang menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup kami. Setali tiga uang dengan spesies manusia yang ingin menghabisi orang atau kelompok lain yang dianggap menjadi ancaman bagi kelangsungan hidupnya atas nama agama dan sebagainya.

Masing-masing kami dipersenjatai dengan tongkat kayu yang cukup panjang dan genderang perang pun ditabuhlah sudah. Suasana simpati menyelimuti hati kami atas hilangnya ayam kolega yang (mungkin) dilarikan oleh biawak itu. Sebelumnya beberapa kali terlihat biawak keluar masuk dalam beberapa lubang besar yang berjajar di lerengan tanah yang menjauh dari rumah kami sehingga ke situlah langkah kami ayunkan.

Jalan setapak kecil yang berbelok-belok membelah kebun kopi yang rimbun menuju hutan yang berpohon tinggi menjulang. Langkah membelokkan kaki ke kanan merayap ke atas bukit meninggalkan jalan setapak. Cilik yang punya nyali paling besar di antara kami memegang pimpinan dan mulai mencolok-colokkan galah panjangnya ke dalam lubang tersebut. Tak ada respon dari dalam yang menandakan sang penghuninya tidak berada di rumah, lagi piknik ke tempat lain, atau malas keluar meladeni kami. 

Beberapa lubang yang lain juga coba dikorek-koreknya tapi juga tanpa hasil.
Agaknya lubang-lubang itu saling berhubungan antara satu sama lainnya. Boleh jadi para biawak menonton dan menertawakan kami dari pintu lubang yang lain. Meskipun bernyali besar, Cilik sudah pasti tak mau merangkak ke dalam lubang dan mengorbankan tangannya menjadi gigitan biawak. Jadi, kami balik ke rumah dengan tangan dan hati yang hampa.

Dulu berhasil kami membuat salah satu penghuni lubang, mungkin pimpinan mereka, tersebut keluar. Rahang dingangakannya lebar-lebar sembari berusaha menyerang kami. Tapi, tongkat yang kami miliki terlalu ampuh baginya untuk merangsek maju sehingga yang diterimanya hanyalah tonjokan dan pukulan dari tongkat yang membuatnya mengundurkan diri dan menghilang ke dalam lubangnya. Tak pernah kami berhasil mengirim nyawa seekor biawak pun ke akhirat sana.

Pernah sekali kulihat orang yang lebih tua yang punya know how yang lebih tinggi daripada kami berhasil membunuh salah seekor dari biawak tersebut dan menjual kulitnya kepada penggalas dari kota. Ada kegembiraan menghambur karena merasa sedikit terbalas dendam atas kejahatannya memangsai ayam kami selama ini.

Hutan selalu siap memainkan drama kematian yang mengerikan sebagaimana yang tercantum dalam skenario yang digubah oleh Tuhan. Mestinya ayam cukup arif agar tidak memasuki hutan yang penuh marabahaya itu. Tapi, mustahil menceramahi mereka. Tatkala kedengaran seekor ayam terkeok dari dalam hutan, bisa dipastikan itu adalah suara geleparnya yang terakhir bersebab sudah menjadi mangsa binatang liar.

Sesudah sang surya setentang badan, ayam suka tidur-tiduran ayam di bawah pepohonan atau di bawah rumah kami. Anak-anak ayam suka menyelinap ke bawah sayap bundanya yang damai dan tertidur sampai dibangunkan kembali. Selepas sang surya mencondongkan badannya ke arah barat, ayam-ayam kembali aktif mencari makan sebelum balik ke log houses milik mereka masing-masing.
Menjelang senja, raja ayam sudah berada dalam kandang dan berdiri dekat pintu masuknya. Dia akan memberikan kesempatan yang luas bagi ayam betina dan anak-anaknya memasuki kandang, tapi ayam jantan tak diperbolehkannya masuk. Ayam jantan yang melewati pintu itu akan dipatuknya untuk mengingatkan bahwa dia adalah raja ayam yang sesungguhnya dalam kerajaan tersebut. Mungkin juga ini sebagai pendisiplinan agar ayam-ayam jantan itu harus balik pulang lebih awal daripada dirinya.

Adakah terpikir dalam benaknya bahwa sesuai dengan hukum alam survival of the fittest kelak ayam muda yang menjadi lebih kuat akan melabraknya sehingga perlu bersiap sedia menghadapi kenyataan terburuk tersebut?
Manakala bumi mulai berselimutkan senja yang remang, raja ayam itu agaknya sudah menjadi rabun ayam, tidak lagi memedulikan keadaan sekelilingnya, dan beringsut menjauh menuju tempat yang dianggapnya paling nyaman bagi dirinya. Waktu itu ayam-ayam jantan yang lain bisa masuk dengan leluasa dan kami mengatupkan pintu kandang mereka.

Esok harinya ayam-ayam itu akan berbuat hal yang kira-kira persis sama dengan hari sebelumnya. Mereka hidup bersahaja dan tidak minta atau makan lebih daripada yang dibutuhkannya seperti nenek moyangnya yang berbudaya paleolitik. Beda amat dengan manusia yang banyak makan melebihi lambungnya yang membuat tubuhnya menggelembung seperti babi warung buncit.

Agaknya mereka tidak menginginkan kehidupan sebagai manusia yang suka mengeluh, protes, pongah, serakah, dan tidak pernah merasa puas atas apa yang sudah dimilikinya dalam asuhan agama yang irasional. Rahmat indah Tuhan yang tidak mengkotak-kotakkan dunia ayam dengan berbagai agama sangat dihargai sehingga tidak hadir permusuhan abadi yang terjadi dalam masyarakat mereka yang suci.

catatan edizal the indonesian freedom writers
×
Berita Terbaru Update